Atraksi Mapasilaga Tedong

Tradisi Mapasilaga Tedong
sumber : kumpulanliriklagutoraja.blogspot.com

Mapasilaga Tedong. Tana Toraja memang selalu menarik, terutama dalam hal kebudayaan. Keragaman budayanya telah mengantarkannya menjadi tujuan wisata budaya yang paling terkenal di Sulawesi Selatan. Tana Toraja semakin ramai dikunjungi wisatawan pada kisaran bulan juli.

Bulan juli dianggap sebagai bulan yang baik untuk melaksanakan Upacara Adat Rambu Solo yakni ritual penghormatan terakhir bagi orang yang meninggal dunia. Upacara tersebut menjadi menarik karena sebagai puncaknya diramaikan dengan Atraksi Ma’Pasilaga Tedong. Tradisi inilah yang telah menjadi magnet kuat untuk menarik banyak wisatawan.

Mahalnya Tradisi Mapasilaga Tedong

Tradisi Mapasilaga Tedong adalah Atraksi Adu Kerbau khas Tana Toraja. Dikatakan khas karena kerbau yang dijadikan tedong aduan memiliki kekhususan dalam jenisnya. Menariknya Kerbau (Tedong) dalam Atraksi Mapasilaga Tedong hanya bisa ditemukan di Tana Toraja, yakni Tedong Bunga atau Kerbau Albino.

Dari beberapa jenis kerbau aduan yang paling sering digunakan adalah Tedong Pudu yang berkulit hitam legam. Disamping mudah dilatih, harga kerbau tersebut tidaklah semahal jenis kerbau lainnya. Hanya saja, harga paling murah untuk satu kerbau Tedong Pudu usia 6-7 adalah Rp 40 juta.

Selain itu ada juga kerbau Salepo dengan bercak-bercak hitam di punggung dan Lontong Bongke yang berpunggung hitam. Jenis kerbau inilah yang disebut paling mahal karena harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Tradisi Ma’Pasilaga Tedong bisa dikatakan sebagai tradisi yang mahal, terutama dalam hal penyediaan Tedong Aduan. Bukan hanya harganya saja yang tinggi, perawatannya pun sangat memakan biaya. Minimal Rp 2 juta perbulan yang harus dikeluarkan pemilik untuk biaya perawatan tedong dan upah Pa’kambik (Pengembala Kerbau).

Biaya diatas belum termasuk nutrisi tambahan berupa telur puyuh dan madu setiap hari selama tiga bulan menjelang hari pertarungan. Belum lagi jika kerbau tersebut kalah dalam pertandingan, harganya bisa menurun drastis bahkan bisa dibawah harga kerbau saat pertama kali dibeli. Meskipun begitu, Mapasilaga Tedong tetaplah menjadi tradisi yang telah mengakar kuat di Tana Toraja.

Antara Mapasilaga Tedong dan Rambu Solo

Berkaitan dengan hubungannya dengan Tradisi Rambu Solo, atraksi ini tetap bertahan karena aspek penghormatan kepada orang tua serta leluhur yang telah meninggal. Untuk menyiasati unsur prestise yang sangat tinggi, berbagai cara akan dilakukan si pemiliki kerbau untuk memastikan kemenangan dalam Mapasilaga Tedong. Salah satunya adalah mendatangkan dokter hewan dari Makasar seminggu sekali untuk memerikasa kondisi kerbaunya.

Pelaksanaan Mapasilaga Tedong, dalam Upacara Adat Rambu Solo, puluhan kerbau yang dijadikan Tedong Aduan akan dibariskan di lokasi. Kemudian diarak ke lapangan yang terletak di Rante (Pemakaman) dibelakang tim pengusung gong, pembawa umbul-umbul beserta sejumlah wanita dari keluarga yang ditinggalkan.

Saat dalam pemberangkatan, musik pengiring pun dimainkan, alunan musik tradisional berasal dari sejumlah wanita yang menumbuk padi pada lesung secara bergantian. Selanjutnya sebelum adu kerbau dimulai, panitia akan menyerahkan daging babi bakar, rokok serta air nira yang telah difermentasi kepada pemandu kerbau dan para tamu.

Atraksi Mapasilaga Tedong sangatlah meriah dan semakin menarik karena selalu diselingi dengan prosesi pemotongan Kerbau ala Toraja, yakni menebas kerbau dengan hanya sekali tebas menggunakan parang.

Video Atraksi Mapasilaga Tedong

Tinggalkan komentar Anda