Basoeki Abdullah

Biografi Basoeki Abdullah
Patung Basoeki Abdullah. sumber : lionmag.net

Basoeki Abdullah – Maestro Pelukis Indonesia

Basuki Abdullah adalah salah satu tokoh seni rupa Indonesia yang dikenal sebagai pelukis beraliran realis dan naturalis. Seorang maestro pelukis Indonesia yang pernah menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta. Beragam karyanya banyak menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia serta menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia.

Beliau adalah seniman multitalenta. Selain sebagai pelukis, Basoeki Abdullah juga pandai menari dan sering tampil sebagai Rahwana atau Hanoman dalam tarian Wayang Wong. Sebagai pelukis dengan wawasan yang luas, beliau sangatlah menguasai soal pewayangan dan budaya jawa. Disamping itu, Basuki Abdullah juga menyukai komposisi-komposisi Franz Schubert, Bethoven dan Paganini.

Basoeki Abdullah adalah seorang pelukis yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Terlahir di Desa Sriwidari pada tanggal 27 januari 1915. Ayahnya adalah seorang pelukis dan salah satu tokoh Mooi Indie bernama R. Abdullah Suryosubroto, sedangkan ibunya bernama Raden Nganten Ngadisah. Basuki Abdullah adalah cucu dari Wahidin Sudirohusodo yakni salah satu Tokoh Kebangkitan Nasional Indonesia.

Terhitung sejak umur 4 tahun, Basuki kecil telah gemar menggambar tokoh-tokoh terkenal dunia seperti Yesus Kristus, Mahatma Ghandi, Rabindranath Tagore, Khrisnamurti dan lain-lain. Basuki Abdullah memulai pendidikan formalnya hingga masa muda di HIS (Hollands Inlandsche Scool) yang kemudian dilanjutkan di MULO (Meer Ultgebried Lager Onderwijs).

Selanjutnya beliau mendapatkan beasiswa untuk pendidikan Seni Rupa di Academie Voor Beldeende di Deen Haag, Belanda selama 2 tahun 2 bulan dengan meraih penghargaan sertifikat RIA (Royal International of Art). Selanjutnya beliau juga mengikuti pendidikan semacam studi banding ke sejumlah sekolah seni rupa di Paris dan Roma.

Pada tahun 1939, karena merasa bahwa selama bertahun-tahun hasil karyanya hanya dinikmati oleh bangsa asing, Basuki Abdullah mengadakan pameran lukisan keliling di beberapa daerah di Indonesia seperti di Jakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Medan. Selama pameran tersebut beragam sanjungan dan kritikan menghampiri, namun oleh beliau dijadikan sebagai dorongan untuk tetap berkarya.

Basoeki Abdullah mulai terlihat dalam pergerakan revolusi secara nyata pada kisaran tahun 1942 dan bergabung dengan organisasi PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) sebagai pengajar seni lukis di tahun 1943. Selain itu beliau juga aktif dalam Keimin Bunka Sdhojo yang merupakan pusat kebudayaan milik Jepang bersama Affandi, S. Soedjojono, Otto Djaja dan Basoeki Resobowo.

Pada masa-masa kemerdekaan Indonesia, Basoeki Abdullah berada di Eropa bersama istrinya Maya Michel. Selama di Eropa, beliau terus aktif berpameran di Belanda dan Inggris. Adapun di tahun 1948, beliau memenangkan sayembara melukis dalam Penobatan Ratu Yuliana. Sayembara tersebut menjadikan nama beliau sangat menonjol karena diikuti oleh 87 pelukis Eropa.

Selanjutnya, pengabdian Basoeki Abdullah semakin nyata ketika mendapatkan tawaran untuk melukis orang-orang penting dari berbagai negara dan tetap aktif berpameran keliling di di beberapa negara. Tercatat beberapa kali pameran diantaranya di Singapura (1951), Italia (1955), Portugal dan Inggris (1956), Singapore (1958), Tokyo, Jepang (1959), Kuala Lumpur, Malaysia (1959), dan Thailand (1960). Diantara pameran tersebut yang menonjol pada peroide tahun 1950-1960, yaitu pameran di Tokyo Jepang pada tahun 1959 yang dibuka oleh Pangeran Mikasa. Anak Kaisar Hirohito.

Segala perjuangan yang dilaluinya telah menempatkannya sebagai Duta Seni Lukis Indonesia dan menempati posisi terhormat dengan berbagai penghargaan. Pernah menjadi pelukis istana kerajaan Thailand, dan mendapatkan penghargaan berupa bintang emas Poporo dari Raja Bhumibol Aduljadej (Raja Thailand). Sebuah penghargaan tertinggi kerajaan Thailand kepada seorang Royal Court Artist yang mempunyai jasa besar kepada pemerintah dan istana.

Selama perjalanan hidupnya, Basuki Abdullah pernah menikah sebanyak empat kali. Istri pertama adalah seorang gadis belanda bernama Josephin yang dinikahi di Belanda tahun 1937. Setahun kemudian dikaruniai seorang putri bernama Saraswati. Pernikahan tersebut tidaklah berlangsung lama, ditahun 1944 Basoeki Abdullah menikah kembali dengan Maya Michel yang seorang penyanyi seriosa mezzosoprano dan kembali berpisah di tahun 1956.

Selanjutnya ditahun 1958 menikah kembali dengan wanita Thailand bernama Somwang Noi yang hanya berlangsung sekitar 2 tahun. Pernikahan terakhir Basuki Abdullah juga dengan wanita Thailand bernama Nataya Nareraat. Pernikahan tersebut berlangsung tanggal 25 oktober 1963 hingga akhir hidupnya dengan dikaruniai seorang putri bernama Cicilia Shidawati.

Basoeki Abdullah meninggal dalam keadaan tragis di usia ke 78. Beliau terbunuh oleh seorang pencuri yang hendak mencuri koleksi jam kesayangannya pada hari jumat 5 november 1993. Beliau ditemukan oleh pembantunya dalam posisi tertelungkup dengan tangan masih memegang kacamata, disertai wajah dan kepala berdarah.

Suatu peristiwa yang tidak pernah terbayangkan dalam pikiran kita. Banyak sekali media yang mencatat peristiwa terbunuhnya pelukis ini. Jenazah Basoeki Abdulllah kemudian dimakamkan didesa Mlati, Sleman Yogyakarta, bersanding dengan makam kakeknya, dr. Wahidin Sudirohusodo.

Contoh Lukisan Karya Basuki Abdullah

Tinggalkan komentar Anda