Raden Saleh

Raden Saleh Sjarif Boestaman
sumber : viva.co.id

Raden Saleh Sjarif Boestaman

Tidak bisa diragukan lagi bahwa Raden Saleh adalah pionir Seni Rupa di Indonesia. Sejak abad ke-19 hingga sekarang, nama beliau teramat masyhur di Eropa maupun di Indonesia sebagai duta seni rupa yang pertama bagi bangsanya. “Penangkapan Diponegoro” adalah lukisan historisnya yang terkemuka yang membuatnya tetap dikenang hingga saat ini.

Karya-karyanya yang memadukan nuansa romantisisme dengan elemen-elemen latar belakang ke-Jawa-annya sedemikian dikagumi, terutama oleh banyak pejabat dan bangsawan Eropa. Lukisan beliau banyak dipesan dan di koleksi oleh mereka, tidak sedikit pula yang memberikannya penghargaan. Di Indonesia sendiri, beliau mendapatkan penghargaan berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia

Raden Saleh adalah pelukis beretnis Arab-Jawa yang terlahir dari keluarga Jawa Ningrat. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab, sementara ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen putra dari Sayyid Abdoellah Boestaman. Mengenai tahun kelahirannya, ada yang mengatakan tahun 1807, ada juga yang mengatakan tahun 1811.

Sejak usia 10 tahun, oleh pamannya yang Bupati Semarang, ia diserahkan kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Setidaknya, bakat melukis beliau mulai menonjol sejak bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School). Bakat tersebut semakin terasah melalui bimbingan pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen. Meski dikatakan sang pembimbing kurang menonjol di kalangan ahli lukis Belanda, namun kehadirannya cukup membantu Raden Saleh untuk mempelajari tekhnik pembuatan dan gaya seni lukis Barat, termasuk penggunaan cat minyak.

Payen sangat terkesan dengan bakat lukis Raden Saleh sehingga mengusulkan agar ia belajar ke Belanda. Usul tersebut mendapat dukungan Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah pada waktu itu yang kemudian membiayai Raden Saleh belajar ke Belanda. Beliau berangkat bersamaan dengan tahun patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro, yakni tahun 1829. Namun keberangkatan itu membawa misi lain yakni ditugaskan untuk mengajar adat istiada dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu. Hal ini sekaligus menunjukan kecakapan lain Raden Saleh.

Di Belanda, selain belajar melukis potret pada Cornelis Krusseman, ia juga belajar melukis pemandangan pada Andries Schelfhout. Seiring mulai dikenal, beliau juga mendapat kesempatan berpameran di Den Haag dan Amsterdam. Orang Belanda pun semakin mengaguminya, mereka tidak menyangka bahwa pelukis muda dari Hindia mampu menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.

Selain belajar melukis, Raden Saleh memperdalam bahasa Belanda, belajar teknik mencetak dengan batu, serta belajar “wis-, land-, meet- en werktuigkunde” (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat). Pembelajaran tentang ilmu yang terakhir tersebut membuat Raden Saleh tinggal lebih lama, meskipun beasiswa dihentikan. Beberapa tahun kemudian, saat Raja Willem II bertahta, beliau dikirim ke Jerman untuk menambah ilmu. Sepulangnya ke Belanda, ia ditunjuk sebagai pelukis istana kerajaan Belanda.

Kekaguman akan karya-karya pelukis legendaris Ferdinand Victor Eugene Delacroix semakin menambah wawasan seni rupa Raden Saleh. Ia terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipadukan dengan sifat agresif manusia. Tercatat ia juga pernah berkunjung hingga menetap di beberapa negara seperti Aljazair, Austria dan Italia sebelum kemudian pulang ke Hindia Belanda pada tahun 1851 bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.

Raden Saleh menikah kembali di tahun 1867 dengan gadis keluarga ningrat Kraton Yogyakarta bernama Raden Ayu Danudirja yang kemudian diajak pindah ke Bogor. Di kemudian hari, beliau membawa sang istri berjalan-jalan ke beberapa negara di Eropa seperti Belanda, Perancis, Jerman dan Italia. Sayangnya, sang istri jatu sakit saat di Paris hingga keduanya pulang kembali ke Bogor. Istrinya kemudian meninggal pada 31 Juli 1880, yakni sekitar 3 bulan setelah kematian Raden Saleh pada 23 April 1880.

Karya-karya lukisan Raden Saleh yang cenderung menekankan sisi romantisnya dinilai merupakan pengaruh tokoh romantisme Delacroix. Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisannya yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.

Sepanjang hidupnya, terutama dalam bidang seni rupa, kekaguman dunia akan karya-karyanya begitu kentara. Banyak penghargaan yang didapatnya, termasuk sejumlah tanda penghargaan dan pameran lukisan Raden Saleh di Amsterdam untuk memperingati tiga tahun wafatnya beliau. Pameran tersebut diprakarsai oleh Raja Willem III dan Ernst dari Sachsen-Coburg-Gotha.

Di Indonesia sendiri, Raden Saleh mendapatkan Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis Indonesia. Selain itu, atas perintah Presiden Soekarno, makam beliau di Bogor di bangun ulang oleh Ir. Silaban. Karya-karya Raden Saleh juga digunakan ilustrasi benda berharga negara, seperti di akhir tahun 1967, PTT mengeluarkan perangko seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya. Adapun di tahun 2008, sebuah kawah di planet Merkurius dinamai dengan namanya.

Kumpulan Karya Seni Rupa Raden Saleh

Tinggalkan komentar Anda