Dramatari Gambuh

Dramatari Gambuh Bali
sumber : bali1928.net

Dramatari Gambuh adalah seni pentas yang dikatakan sebagai mata air seni pertunjukan Bali. Sebuah dramaturgi kebesaran zaman kejayaan keraton Bali yang menjadi kesenian paling tinggi mutunya. Dalam buku Overzicht van Dans en Tooneel in Bali (Walter Spies dan R. Goris 1937) disebutkan bahwa Gambuh oertype van alle tooneel on alle muziek (asal atau sumber dari drama dan gamelan yang ada di Bali). Dikatakan juga bahwa inilah tarian dramatari klasik Bali yang paling kaya gerak tari, sehingga dianggap sebagai sumber segala jenis Tari klasik Bali.

Menurut Prof Dr I Made Bandem, MA, sebelum adanya Gambuh, Bali tidak memiliki tarian. Sebab tari sebelum Gambuh digolongkan dalam tari sakral yang hanya ditampilkan di tempat ibadah sebagai bagian dari ritual keagamaan. Tidak ada persiapan latihan secara khusus untuk sebuah pementasan. “Itu ada trance atau ekstasi. Disitu tidak ada koreografi yang pasti seperti koreografi Gambuh. Jadi semuanya improvisasi,” terang I Made Bandem.

Asal Usul Istilah Gambuh

Gambuh adalah satu istilah yang digunakan untuk seni tari yang berbentuk drama tari, tembang dan wayang. Kata “Gambuh” bisa ditemukan dalam bahasa Melayu, Jawa dan Sunda. Dalam bahasa Melayu istilah ini dihubungkan dengan perasaan “Terima Kasih”, dalam bahasa Sunda dihubungkan dengan hiasan kepala topeng yang juga dinamakan tekes.

Sementara itu, dalam bahasa Jawa istilah ini merujuk pada nama pupuh dengan pada lingsa u, 10u, 12i, 8u, 80. Pada lingsa adalah patokan dalam satu bait lagu atau pupuh gending Bali (dikutip Bandem dkk 1975: 2-3). Arti atau asosiasi itu boleh dihubungkan dengan nama tari Bali Gambuh. Selengkapnya mengenai asal usul istilah Gambuh bisa dilihat disini


kembali ke menu

Pementasan Dramatari Gambuh

Ketika memperhatikan bentuknya, Gambuh adalah seni pentas total teater yang didominasi oleh unsur seni tari. Meskipun begitu, Gambuh juga diperkaya oleh unsur seni lainnya, seperti seni tabuh, seni sastra, seni dialog, seni rupa dan seni rias. Semua unsur tersebut dipadukan dan menciptakan komposisi seni yang harmonis dan sarat akan keindahan.

Pementasan Gambuh biasa dilakukan di area berbentuk segi empat yang disebut Kalangan. Area ini dilengkapi dengan bambu (tangluk) yang berfungsi sebagai pemisah antara penari dan penonton. Apabila difungsikan sebagai bagian dari upacara adat yang sakral, kesenian ini akan dimulai pada pukul 09.00 dan berlangsung hingga tengah hari. Sementara itu jika difungsikan untuk hiburan, Gambuh dipentaskan pada malam hari.

Dramatari ini berlangsung membawakan lakon utama yakni cerita Panji atau biasa disebut Malat oleh orang-orang Bali. Cerita tersebut mengisahkan kehidupan, romantika serta peperangan dari kerajaan di Jawa Timur pada rentang abad XII-XIV. Berbeda dengan kisah Mahabharata atau Ramayanan, Cerita Panji adalah karya cipta asli Budaya Nusantara. Dalam Gambuh kisah tersebut disajikan dan dibagi dalam beberapa episode dengan struktur naratif dan dramatik.

Dalam pelaksanaannya, Dramatari Gambuh akan melibatkan 25-40 penari laki-laki dan perempuan. Berbagai karakter diperankan oleh para pemain, seperti karakter halus yang mewakili tokoh Rangkesari dan Panji, karakter keras untuk para Patih Arya dan Prabangsa, hingga karakter lucu Demang Tumenggung. Keunikan karakter juga memungkinkan kekhasan tata busana yang digunakan, baik oleh kelompok putra maupun putri.

Tidak hanya itu, khusus untuk tokoh utama diharuskan mampu berbahasa Kawi atau Jawa Kuno yang selanjutkan perkataan mereka akan diterjemahkan oleh para panakawan. Disamping itu, Gambuh sangatlah ekspresif yang banyak menghadirkan ekspresi muka dengan beragam gerakan mata yang disebut nelik, nyureng, gagilehan dan nyerere. Ekspresi-ekspresi tersebutlah yang semakin menghidupkan dramatari ini.

Menariknya, setiap tokoh yang diperankan juga memiliki gending iringan tersendiri yang dipimpin oleh suling panjang berkisar 90 sentimeter. Ditengah-tengah penabuh biasanya duduk satu atau dua orang juru tandak yang difungsikan untuk menghidupkan suasana dramatisasi pertunjukan seperti sedih, gembira, marah dan lucu.


kembali ke menu

Sejarah Dramatari Gambuh

Terkait dengan sejarahnya, sulit diketahui kapan kesenian ini ada di Bali. Adapun jika dihubungkan dengan sejarah runtuhnya Majapahit, Gambuh diperkirakan ada di Bali pada kisaran abad XV. Saat kerajaan Majapahit runtuh pada pertengahan abad XV, seluruh khasanah kesusastraan Jawa diboyong ke Bali. Dari sini ada yang berpendapat bahwa Gambuh diperkirakan muncul pada kisaran abad tersebut.

Diketahui bahwa awal pembentukan kebudayaan Bali adalah dimulai dari penaklukan oleh Jawa melalui mahapatih Majapahit yang berhasil menggulingkan raja Bali. Tiga abad selanjutnya, Bali yang kokoh dibangun sebagai bagian dari kekuasaan Jawa Timur itu terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang saling bertikai.

Kebudayaan istana pada masa-masa itu adalah kebudayaan yang dikuasai oleh etik perang dan roman, terutama para pangeran yang lebih suka digambarkan sebagai seorang kekasih dan juru perang atau prajurit yang dicintai rakyat dan ditakuti musuh. Gambuh sendiri adalah warisan sebagai perwujudan roman tersebut. Mempertunjukkan lakon dari ceritera Malat, sebuah epik Panji yang berasal dari kebudayaan Majapahit Kuno.

Pada masa keemasan raja-raja Bali, terutama Dalem Waturenggong (1416-1550), kesenian ini adalah seni pertunjukan prestisius bagi seisi istana. Hampir setiap puri memiliki panggung khusus yang biasa disebut bale pegambuhan. Para seniman Gambuh yang menonjol direkrut menjadi seniman istana dan mendapatkan gelar terhormat. Itulah masa-masa kejayaan bagi Dramatari Gambuh, sebelum akhirnya kolonialisme menggerogoti kaum bangsawan yang turut berdampak pada eksistensi kesenian ini.

Sementara itu pada akhir abad XX istana atau puri memang masih ditemukan di Bali, hanya saja sudah tidak mampu melaksanakan fungsinya seperti dahulu yakni yang menjadikan mereka sebagai pusat kehidupan seni dan sosial di Pulau Bali. Dalam dasawarsa pada awal abad ini, tidak sedikit orang Bali yang masih mengingat usaha-usaha untuk membangkitkan kebudayaan istana, salah satu yang sering disebut adalah Dramatari Gambuh.

Untuk saat ini, kesenian Gambuh hanya bisa dinikmati pada upacara keagamaan yang dianggap penting. Setidaknya masih ada dua gaya yang masih mencoba bertahan ditengah ketidakpedulian masyarakat Bali yakni Gambuh Pedungan (Denpasar) dan Gambuh Batuan (Gianyar). Keduanya hadir dengan ciri dan identitas yang masih dianut para pendukungnya masing-masing.

Salah satu yang menjadikan Gambuh langka adalah karena dramatari ini merupakan ungkapan seni yang serius dan rumit. Berpola ketat, sementara penyajiannya protokoler. Bobot artistiknya hadir seiring kompleksitasnya, baik koreografi maupun komposisi musiknya. Para tokoh memiliki tatanan tersendiri serta harus berdialog dengan bahasa Jawa Kuno yang terpola juga. Setiap karakter juga memiliki iringan musik tersendiri yang cenderung rumit, berliku-liku dan panjang.

Ketatnya aturan dan demikian rumitnya kesenian ini, kini di Bali hampir tidak ada orang yang benar-benar mampu menguasainya. Disisi lain, mungkin saja sudah tidak ada seniman yang bersungguh-sungguh menekuni Gambuh, sementara generasi muda Bali tak begitu banyak yang tertarik menjelajahi teater ini. Sebagian komunitas pendukungnya pun tidak lagi memiliki ikatan batin dengan nilai keindahan yang mungkin dulu pernah disanjung dan dibanggakan.


kembali ke menu

Kesenian yang berakar dari Dramatari Gambuh

Berikut ini adalah daftar sebagian dari kesenian yang bersumber dari Dramatari Gambuh. Dalam artikel ini, kesenian yang dimaksud hanya akan dilengkapi dengan deskripsi singkat saja. Selanjutnya, jika memang telah terulis dalam situs ini, Pembaca bisa melihat informasi lebih detail mengenai masing-masing dengan klik “Selengkapnya”

Wayang Gambuh Bali
sumber : blog.isi-dps.ac.id

Wayang Gambuh adalah jenis Wayang Bali yang terbilang langka. Pada dasarnya ini adalah sebuah pertunjukan Wayang Kulit seperti halnya Wayang Panji di Jawa yang mengambil lakon dari cerita Malat (siklus panji). Bisa dikatakan bahwa Wayang Gambuh adalah Dramatari Gambuh yang disajikan dalam pertunjukan wayang kulit dengan tokoh-tokoh penggambuhan pula. Hal ini juga berlaku pada ucapan-ucapannya serta alat musik pengiringnya…Selengkapnya

Dramatari Arja Bali
sumber : www.balinesedance.org

Arja adalah dramatari khas Bali yang dialognya ditembangkan secara macapat. Dramatari Arja bisa digolongkan sebagai teater berjenis musical form yakni opera atau seni drama yang mempergunakan seni suara sebagai pengungkap cerita. Tembang dan instrumental merupakan bagian yang paling dominan pada kesenian ini dan memang setiap pengungkapan dramatisasi pasti menggunakan tembang dan instrumen…Selengkapnya

Dramatari Calonarang Bali
sumber : ekaboymaster.blogspot.co.id

Calonarang adalah dramatari tradisional yang sarat dengan ritual magis. Mengusung kisah yang berkaitan dengan ilmu sihir, ilmu hitam maupun ilmu putih yang lebih dikenal dengan Pangiwa/Pengleyakan dan Panengen. Sering juga disebut sebagai pertunjukan adu kekebalan karena pada beberapa bagian dari pertunjukannya menampilkan adegan adu kekuatan dan kekebalan…Selengkapnya

Dramatari Topeng Bali
sumber : kamerabudaya.com

Dramatari Topeng adalah jenis kesenian yang dimainkan oleh para pemain yang semuanya menggunakan topeng. Drama Tari ini mengangkat cerita sejarah dan babad Bali. Dalam hubungannya dengan Gambuh adalah laras Prabangsa yang digunakan patih keras seperti gelatik nuut papah, ngerajeg, ataupun ngerangrang. Sementara itu, yang mengambil laras Panji ialah Arsawijaya.


kembali ke menu

Video Pertunjukan Dramatari Gambuh

Artikel mengenai Dramatari Gambuh ini hanya berupa rangkuman. Untuk memperkaya pengetahuan Anda mengenai kesenian ini, bisa melihatnya dengan mengunjungi tautan referensi yang disediakan dibawah ini. Bisa juga mencari sumber lain yang sekiranya dapat menjawab kebutuhan Anda sehubungan dengan Gambuh.

Tinggalkan komentar Anda