Gowes Malang Jogja

Gowes Malang Jogja

Gowes Malang Jogja – Sebuah Senarai Perjalanan

Bisa jadi semangat adalah sesuatu yang baik untuk dijadikan alasan agar bisa menepis segala sesuatu yang membuat kita terdiam dan tetap bermimpi. Saya percaya bahwa sesuatu yang besar hanya akan diperoleh dengan ikhtiar yang besar. Kita akan tetap berjalan senada dengan apa yang kita fikirkan…hmmm. Ups!…. bukankah itu kalimat yang berlebihan untuk mengawali sebuah dokumentasi perjalanan bersepeda dari Malang ke Jogja?

Opini memang sangatlah bervariasi, bagi sebagian orang Gowes Malang Jogja adalah hal yang mudah dan sudah biasa, namun tidak sedikit pula yang menganggap hal ini adalah suatu kegilaan. Jadi!! anggap saja artikel ini difokuskan untuk memberi semangat bagi yang masih bermimpi, meskipun itu diluar topik ke-Gowes-an.

Perjalanan Gowes Malang Jogja dengan jarak kisaran 321 km ini bukanlah trip para expert, kami hanyalah “penggembira” dalam hal ini. Tentunya segala persiapan akan senada dengan versi si penggembira. Tidak ada yang khusus, baik itu keamanan pada si pengendara maupun sepeda-nya.

Untuk perjalanan yang cukup jauh itu kami memakai ukuran ban yang kurang sesuai yakni 26 x 2.10, cukup berat dan tanpa bawa ban serep. Perjalanan juga kami awali dengan kurangnya tidur serta keadaan yang serba tergesa-gesa, menembus malamnya Kota Batu dan Kota Malang. Akhirnya, selamat tinggal kota tercinta untuk waktu yang tak bisa kami perkirakan.

Kota Proklamator (Blitar)

Blitar adalah kota tetangga yang kami lewati, menembus gelapnya perbatasan karena kami berangkat pada pagi yang begitu gelap. Dari sini aroma Jawa mulai terasa karena The Greater Malang sedikit demi sedikit telah terlepas dari kejawaannya. Geliat kekinian menjadikan kota kami terbuai dan cenderung menjadi follower peradaban kering. Matahari yang terbit di wilayah Blitar terasa membawa nostalgia yang begitu baik. Sejuk pada sambutan persawahan penduduk, karakter yang begitu santun dan ramah, kami terbuai senyuman mereka.

Kota Marmer (Tulungagung)

Tulungagung adalah ketika kami semakin larut pada nostalgia cerita kejawaan yang telah sampai pada telinga kami Meskipun semakin terik dalam peristirahatan, semangat kami kembali termotivasi oleh semakin ramahnya Wong Jowo. Disini kami tidak lagi merasakan dampak melemahnya rupiah, karena kami bisa makan dengan harga yang jauh lebih murah.  Jujur saja ini berbanding terbalik dengan yang disediakan oleh Kota Wisata Batu yang cenderung materialistis dalam balutan kecantikannya.

Kota Keripik Tempe (Trenggalek)

Trenggalek mengusung karakter yang pastinya akan kami rindukan. Meskipun kami tak sempat melihat pusat kotanya, namun kami sangat puas dengan karakteristik penduduknya. Senyum-senyum mereka, bahasa mereka, kesantunan mereka serta keluguan mereka yang begitu jujur membangkitkan kembali rasa kejawaan kami. Suatu saat kami rasa perlu kembali menikmatinya. Pada akhirnya, jalan yang begitu menanjak, meliuk-liuk dan berdebu ikut mengantarkan kami pada daerah selanjutnya

Kota Reog (Ponorogo),

Sebuah kadipaten yang pernah terlahir sejak 11 Agustus 1496 ini adalah ketika kami harus kembali bermalam. Perjalanan yang kami ciptakan ini memang sangat lambat, itulah yang kami inginkan. Masjid Agung Ponorogo menjadi masjid kesekian kalinya yang kami singgahi untuk melepas lelah dan beribadah. Kami sangat beruntung, melalui keramahan penjaga kami dizinkan untuk bermalam hingga subuh. Pagi pun tiba, saat yang tepat untuk melepaskan Jawa Timur dan masuk ke dalam pesona Jawa Tengah.

Wonogiri (Kota Gaplek)

Wonogiri adalah wilayah yang indah, kami kira lebih perawan dari kecantikan Kota Batu. Wilayah Purwantoro menjadikan kami begitu lelah dengan naik turunnya jalan, bahkan itu tidak berhenti sampai Kecamatan Ngadirojo (hanya perkiraan, sedikit lupa). Beruntungya, rasa capek terbayar lunas bahkan lebih oleh suasana pegunungan. Kota Wonogiri begitu cantik dan bersih. Pesona malam di wonogiri bercampur keringat akibat turun-naik dan berkelok-keloknya jalan. Tentunya kota ini akan meninggalkan kesan tersendiri bagi kami.

Klaten (Kota Berseri)

Klaten menyambut kami di malam menjelang pagi yakni setelah perjalanan dari perkampungan satu ke yang lainnya. Malam itu teramat hitam karena sedikitnya penerangan dari Wonogiri ke  Klaten. Disini kami banyak bertanya, karena sedikitnya pengenalan jalan. Alhamdulillah, Jawa Tengah masih sangat kentara dengan sambutan yang sangat ramah. Perjalanan kami di pagi hari di untungkan oleh Car Free Day hari minggu, sehingga jalan utama dalam kota menuju Jogja sebagian tidak lagi dipenuhi kendaraan. Kembali, kami sangat bersemangat mengayuh sepeda karena jarak yang semakin dekat dengan tujuan.

The Jewel of Java (Yogyakarta)

Wilayah Prambanan sebagai pintu masuk Klaten – Jogja adalah ketika kami tersenyum sumringah karena berhasil melewati setengah Perjalanan Gowes Malang – Jogja. Sambisari adalah daerah yang menjadi tempat peristirahatan dan meregangkan otot sebelum kami kembali berkeliling. Menikmati apa saja yang ditawarkan Kota Seni dan Budaya ini. Semoga saya bisa kembali menuliskan kesan-kesan selama kami di Jogja

Gowes Malang Yogyakarta

Tinggalkan komentar Anda