Seni Debus Banten

Kesenian Debus Banten
sumber : indonesia.travel

Debus adalah seni pertunjukan bela diri yang dikenal sebagai salah satu seni pertunjukan masyarakat Banten di Jawa Barat. Meski lebih dikenal sebagai kesenian asal Banten, dibeberapa daerah lain di Indonesia juga bisa kita temui kesenian sejenis ini, terutama di daerah Sumatera.

Sebuah kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa berupa menahan siksaan jasmani yang disengaja. Memperlihatkan kekebalan tubuh manusia terhadap apa saja yang secara normal akan mengakibatkan manusia terluka. Aksi kekebalan terhadap senjata tajam, membakar diri atau memakan api, menyiram tubuh dengan air keras hingga bergulingan di atas serpihan kaca dan lain sebagainya.

Bagi masyarakat Banten, kesenian Debus merupakan warisan budaya leluhur yang hingga kini tetap bertahan sebagai bentuk identitas Masyarakat Banten. Nilai-nilai budaya dalam kesenian ini lebih cenderung dipengaruhi oleh unsur-unsur Agama Islam yang dijadikan sebagai acuan dalam bertingkah laku.

Melalui kesenian ini identitas sosial budaya masyarakat Banten dikenal sebagai masyarakat yang religious. Selain itu dalam Seni Debus juga bisa kita dapati nilai-nilai budaya lain seperti nilai gotong royong, nilai kerja keras, nilai kerjasama, nilai silahturahmi, nilai kearifan lokal, nilai pendidikan serta nilai kebersamaan.

Asal Usul Istilah Debus

Istilah Debus sendiri secara etimologis berasal dari kata dalam Bahasa Arab yakni Ad-dabbus yang berarti paku. Ada juga yang berkata berasal dari kata Dablus yang berarti senjata penusuk berupa besi runcing, yang dimaksudkan disini adalah alat tusuk dari besi yang memiliki panjang antara 50-60 cm.

Senjata yang dimaksud diatas memiliki ujung yang runcing dengan pangkalnya bertangkai kayu besar berbentuk silinder dengan garis tengah kira-kira 20 cm. Senjata itu dihias oleh rantai besi yang difungsikan sebagai tempat pemukul. Adapun alat pemukulnya terbuat dari kayu yang disebut gada.

Pelaksanaan Seni Debus

Pertunjukan seni ini memiliki bentuk yang memadukan seni tari, seni suara dan seni kebatinan yang bernuansa magis. Digelar sebagai sarana upacara adat atau hanya sekedar sebagai hiburan di masyarakat. Dalam pelaksanaannya, debus biasanya diawali dengan gembung (pembukaan) berupa pembacaan Shalawat Nabi SAW dan Dzikir kepada Allas SWT dengan diiringi iringan tetabuhan selama kurang lebih 30 menit.

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan Beluk berupa lantunan Dzikir dengan suara keras dan bersahut-sahutan yang juga diiringi tetabuhan. Pada sesi Beluk, atraksi kekebalan tubuh mulai didemonstrasikan dengan urutan yang disesuaikan kehendak para pemainnya.

Beragam atraksi yang sangat irasional berturut-turut dipersembahkan. Sangat menegangkan dan terkadang telampau mengerikan namun juga mampu menarik perhatian. Tidak jarang atraksi ini menjadi hiburan yang unik bagi wisatawan asing yang cenderung tidak percaya pada hal-hal yang diluar nalar.

Sejarah Kesenian Debus Banten

Terdapat beragam pendapat yang ikut mewarnai kemungkinan awal perkembangan kesenian masyarakat Banten ini. Ada yang mengatakan bahwa kesenian ini termasuk bagian dari Upacara Syaman yang telah mengalami akulturasi budaya sejak perkembangan Agama Islam di Indonesia. Pendapat lain mengatakan bahwa Debus berasal dari kesenian Persia yakni Al Madad yang menjadi jalan syiar kelompok Tharikat Qadiriyah.

Adapun pendapat yang paling populer, kesenian ini mengawali perkembangannya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570) dan kemudian berlanjut pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1651—1692). Pada masa-masa itu, kesenian ini dijadikan sarana untuk memompa semangat juang rakyat Banten ketika melawan Penjajah Belanda.

Tinggalkan komentar Anda