Korrie Layun Rampan

Korrie Layun Rampan
sumber : undas.co

Korrie Layun Rampan – Mutiara Dari Dayak

Korrie Layun Rampan adalah salah satu sastrawan Indonesia yang bersinar, terlebih ketika buku tebalnya menjadi penanda lahirnya Sastrawan Angkatan 2000. Angkatan sastra yang menjadi tempat bertemunya karya sastra yang sangat berani dan vulgar dengan karya sastra islami yang menawarkan kesantunan dan bersih dari citra erotis.

Korrie adalah mutiara sastra dari Kalimantan. Seorang sastrawan dan kritikus yang produktif, kaya akan cerpen, novel, puisi, kritik dan esai. Selain Emha Ainun Nadjib, ia adalah salah satu contoh benih yang telah tumbuh dari Persada Studi Klub dalam bimbingan seorang sastrawan misterius, Umbu Landu Paranggi.

Korrie Layun Rampan terlahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda, Kalimantan Timur. Ia adalah seorang putra dari keluarga pegawai negeri. Ayahnya, Paulus Rampan adalah seorang pensiunan tentara berpangkat sersan, sementara ibunya bernama Martha Renihay. Semenjak kecil, Korrie adalah seorang anak yang berprestasi. Menjalani pendidikan dasarnya hanya empat tahun dan lulus tahun 1964.

Oleh karena prestasi baiknya juga, Korrie melanjutkan sekolah di SMP hingga perguruan tinggi berbekal beasiswa dari Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur. Lulus SMA di Samarinda tahun 1970, selanjutnya pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada. Awalnya, ia memilih Jurusan Kuangan dan Perbankan sampai sarjana muda, kemudian beralih ke Fakultas Sosial Politik.

Pada tahun 1973, tepatnya pada tanggal 10 Juli, Korrie Layun Rampan menikah dengan Hernawati K.L. Keduanya dikaruniai enam orang anak, diantaranya Anthoni Ardhy Rampan, Evita Feirin Rampan, Riena Dyaningtyas Rampan, Eliade Rinding Rampan, Dayeng Rinding Rehinay Rampan dan yang terakhir adalah Amalia Rinding Rehinay Rampan.

Kecintaannya terhadap dunia sastra telah dimulai sejak kelas IV SD, melalui kegemarannya membaca banyak karya sastra. Tenggelamnya Kapal van der Wijk, sebuah novel karya Buya Hamka telah berhasil menggugah hati seorang Korrie untuk mulai menulis. Ketika di SMP, beberapa majalah sastra telah dibacanya, termasuk majalah Sastra, Horison, Cerpen, Budaya Jaya, dan Indonesia.

Di SMA, ia semakin giat dalam bersastra. Menulis puisi di majalah dinding sekolahnya, hingga mengisi siaran khusus sastra “Pancaran Sastra” di RRI Studio Samarinda. Eksistensi kesastraannya semakin terlihat saat berkuliah di Yogyakarta, dimana ia bergabung dengan Persada Studi Klub (PSK) atau juga populer dengan sebutan Universitas Malioboro di bawah bimbingan Umbu Landu Paranggi.

Terhitung sejak kisaran tahun 1972, Korrie Layun Rampan sudah menjadi penulis produktif. Tulisan-tulisannya kerap di muat di berbagai koran dan majalah,seperti Kompas, Berita Buana, Suara Karya, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, dan Horison. Menariknya, karya-karyanya yang tersebar itu kemudian dibukukan dalam judul “Pejalanan Sastra Indonesia” dan diterbitkan oleh Penerbit Gunung Jati di tahun 1983.

Bentuk perhatiannya kepada sastra juga diwujudkan dengan mendirikan Yayasan Arus sebagai wadah untuk menerbitkan karya-karya sastra. Selain itu, Korrie juga memiliki ruang khusus di rumahnya untuk dokumentasi sastra dengan mengoleksi sekitar 25.000 judul buku. Selain buku, majalah dan kliping sastra, ia juga mengoleksi buku bidang sosiologi, antropologi dan biografi tokoh-tokoh terkenal. Roman Melayu-Tionghoa yang terbit sebelum abad XIX menjadi buku tertua dalam koleksinya.

Korri Layun Rampan terkenal sangat produktif dan tidak hanya di dunia sastra. Selain sebagai sastrawan dan aktif di bidang penerbitan, ia juga seorang guru, dosen, jurnalis, penyiar di RRI dan TVRI Stasiun Pusat. Sejak tahun 1978-2001, ia menjadi bagian dari beberapa penerbit. Diawali dengan bekerja di penerbit Cypress, Sinar Harapan, Sarinah hingga menjadi pemimpin redaksi surat kabar Sentawar Pos (Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur).

Di dunia pendidikan, selain mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kuta Barat, Korrie juga mendirikan Rumah Sastra KLR yang berfokus pada masalah pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga remaja. Ada juga universitas KLR di Samarinda. Tidak berhenti disitu, Korrie juga aktif di dunia politik, hingga menjadi anggota DPRD Kutai Barat periode 2004-2009, sebagai Ketua Komisi 1 dan bertugas sebagai jurnalis dan duta budaya. Di bidang sosial, ia menjadi Ketua Bidang Seni Budaya Dewan Adat Dayak.

Penghargaan untuk Korrie Layun Rampan

Aktivitasnya di dunia sastra telah menghantarkan beberapa penghargaan terhadapnya. Novelnya yang berjudul Upacara dan Api Awan berhasil memperoleh Hadiah Sayembara Roman DKJ 1976 dan 1978. Kumpulan puisinya berjudul Cuaca di atas Gunung dan Lembah (puisi anak-anak) mendapatkan hadiah sejak dinobatkan sebagai kumpulan puisi terbaik tahun 1984 oleh Yayasan Buku Utama.

Penghargaan lain yang diperolehnya sampai tahun 2012 berjumlah sekitar 16 buah penghargaan, diantaranya Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (2006), Hadiah Pelopor Sastra Kalimantan Timur dari Pemerintah Kota Balikpapan (2009), Hadiah Citra Darma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI (2010), Penghargaan dari Pemerintah daerah Provinsi Kaltim (2012), dan Penghargaan dari Komunitas etnis Dayak Benuaq (2012).

Karya-karya Korrie Layun Rampan

Kumpulan cerpen diantaranya:

  1. Matahari Makin Memanjang, 1986, Jakarta: Bahtera Jaya
  2. Perhiasan Bumi, 1986, Jakarta: Bahtera Jaya
  3. Ratapan, 1989, Jakarta: Balai Pustaka
  4. Perjalanan Guru Sejarah, 1983, Jakarta: Bahtera Jaya
  5. Kekasih, 1981, Ende: Nusa Indah
  6. Tak Alang Kepalang, 1993, Jakarta: Balai Pustaka
  7. Malam Putih, 1983, Jakarta: Balai Pustaka
  8. Perhiasan Matahari, 1989, Jakarta: Balai Pustaka
  9. Perhiasan Bulan, 1988, Ende: Nusa Indah
  10. Kayu Naga, 2007

Kumpulan puisi diantaranya:

  1. Matahari Pingsan di Ubun-Ubun
  2. Alibi
  3. Cermin sang Waktu
  4. Mata dan Sawan

Kritik dan esai diantaranya :

  1. Cerita Pendek Indonesia Mutakhir: Sebuah Pembicaraan, 1982, Jakarta: Nur Cahaya
  2. Puisi Indonesia Mutakhir Sebuah Perkenalan, 1980, Jakarta: Nur Cahaya
  3. Kesusasteraan Tanpa Kehadiran Sastra, 1984, Jakarta: Yayasan Arus
  4. Jejak Langkah Sastra Indonesia, 1986, Ende: Nusa Indah.

Cerita anak diantaranya :

  1. Nyanyian Tanah Air, 1981, Jakarta: Cypress
  2. Pengembaraan Tonsa di Posa, 1981, Jakarta: Sinar Harapan
  3. Pohon Raksasa di Rimba Raya, 1983, Jakarta: Cypress
  4. Mulawarman Bersama 25 Pahlawan Kalimantan, 1985, Jakarta: Cypress.

Kumpulan Puisi Korrie Layun Rampan

Ku Tempuh Jalan-jalan Lengang
Z
Perjalanan Ini
Bunga-bunga Daun Luruh
Senja Di Parangtritis
Sang Waktu Pun Terbangun
Kita
Kota Kita Disini
Tarakan
1973
Ku Tulis
Dalam Rimba Kehidupan
Dalam Kirap Sayap Waktu
Doa Seorang Bocah Tuna
Puisi
Mahakam
Gerimis Pagi Ini
Di Tengah Galau Riuh Rendah Abad Ini
Ketika Soli Deo Glaria Hampir Penghabisan
Kota
Dari A Ke Z
Engkau Dan Aku
Cermin
Rahasia
Surat
Sepasang Burung
Adakah Engkau Tetap Disana
Perjalanan
Aku Memilih
Elegi
Menunggu Malam Disini
Serenade Hampir Penghabisan
Pintu
Serulingmukah Menghancurkan Tongkang
Upacara Bulan
Roh Angin

Tinggalkan komentar Anda