Pantai Ngobaran

Lanskap Pantai Ngobaran
sumber : kabarwisata.com

Pantai Ngobaran. Gunungkidul telah dikenal sebagai surga wisata pantainya Yogyakarta. Oleh karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, kabupaten ini memiliki garis pantai yang cukup luas membentang hingga 65 kilometer. Setidaknya, puluhan pantai telah dipublikasikan sebagai obyek wisata yang sejauh ini mampu menampung gairah wisata para pencintanya. Jika sebelumnya telah ditulis mengenai Pantai Ngrenehan, dalam artikel ini akan disajikan sekilas tentang pantai tetangganya, yakni Pantai Ngobaran.

Pantai Ngobaran adalah pantai yang kaya melalui harmoni keindahan alam, budaya serta religiusitas masyarakatnya. Alam pantainya molek di dominasi karakter keras tebing-tebing karang. Jika laut surut, kolam-kolam kecil pun tercipta di lantai karang yang berbalut hijaunya alga. Di kolam itulah, biota-biota laut seperti lobster, landak laut, kerang-kerangan, bintang laut sering kali terjebak. Hamparan pasir putih serta birunya laut dengan ombak khas laut selatan turut menyempurnakan lanskap pemandangannya.

Selain keindahan alam, pantai ini juga menawarkan harmoni budaya melalui keberadaan empat bangunan peribadatan dari agama atau kepercayaan yang berbeda, Kejawan, Kejawen, Hindu dan Islam. Keberadaan bangunan-bangunan tersebut juga turut mengisyaratkan sejarah pantai ini. Jika pantai Ngrenehan sejarahnya dikaitkan dengan kedatangan Raden Patah, pantai ini dikaitkan dengan ayah dari Raja Demak I tersebut, yakni Prabu Brawijaya V sebagai raja terakhir Majapahit.

Nama pantai ini berkaitan dengan keteguhan Brawijaya V untuk tidak memeluk Agama Islam yang ditawarkan anaknya. Konon, Brawijaya V dikisahkan berpura-pura bunuh diri dengan membakar dirinya di sebuah kotak batu yang kini ditumbuhi tanaman kering di pantai ini. Hal itu dilakukan karena ia tidak ingin ditemukan oleh Raden Patah yang telah sampai di Pantai Ngrenehan dalam usaha mencari ayahnya. Kobaran api dalam peristiwa itulah yang kemudian menjadi Ngobaran dan diabadikan sebagai nama pantai ini.

Meskipun begitu, banyak sejarawan yang meragukan perihal penyerangan Raden Patah terhadap ayahnya. Mereka beranggapan bahwa bukti sejarah yang ada tidak cukup kuat untuk membuktikan adanya penyerangan yang seolah-olah menunjukkan Raden Patah menyebar Islam dengan jalan kekerasan. Benar tidaknya cerita ini, mungkin bisa Pembaca cari sendiri.

Jelajahi artikel ini

Galeri Foto


Tinggalkan komentar Anda