Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono
sumber : berdemokrasi.com

Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah salah satu Pujangga Indonesia terkemuka yang namanya tersohor di dalam maupun di luar negeri. Kepopuleran beliau salah satunya adalah dari puisi-puisinya yang banyak menggunakan bahasa sederhana sehingga banyak diminati oleh kalangan sastrawan maupun khalayak umum. Jasa beliau sangatlah besar bagi Sastra Indonesia termasuk sebagai perintis Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski).

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono terlahir pada 20 Maret 1940 di Surakarta, Jawa Tengah. Di kota kelahirannya tersebutlah, beliau menghabiskan masa muda. Mulai menulis sejumlah karya dan dikirimkan ke majalah-majalah sejak masa-masa SMP hingga lulus dari SMA Negeri 2 Surakarta pada tahun 1958.

Kegemaran SDD (julukan Sapardi Djoko Damono) semakin berkembang saat menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta. Pada kisaran tahun 1974, beliau mulai menjadi pengajar di Fakultas Sastra (kini menjadi Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia.

SDD pernah juga menjadi dekan dan guru besar di Universitas Indonesia, serta dimasa itu juga beliau menjadi redaktur pada majalah Horison, Basis dan Kalam. Disamping itu, SDD juga salah seorang pendiri Yayasan Lontar. Beberapa penghargaan pernah disandangnya, termasuk SEA Write Award di tahun 1986 dan Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003.

Sajak-sajak pujangga yang menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai 2 anak ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Karya-karyanya tidak saja berupa puisi namun juga berupa cerpen, sementara juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, menulis esai, serta menulis kolom dan artikel di sejumlah surat kabar.

Beberapa karya puisi SDD yang sangat populer adalah Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Video Penampilan Sapardi Djoko Damono

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono

AKULAH SI TELAGA
ANGIN, 1
ANGIN, 2
ANGIN, 3
AKU INGIN
YANG FANA ADALAH WAKTU
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
BUNGA, 1
BUNGA, 2
BUNGA, 3
HUJAN BULAN JUNI
DALAM DIRIKU
TIBA-TIBA MALAM PUN RISIK
DI ATAS BATU
PERCAKAPAN MALAM HUJAN
BUNGA-BUNGA DI HALAMAN
KISAH
HATIKU SELEMBAR DAUN
PADA SUATU HARI NANTI
PERTEMUAN
MAUT
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
PERAHU KERTAS
TUAN
TENTANG MATAHARI
TELINGA
TEKUKUR
TAJAM HUJANMU
SIHIR HUJANMU
SETANGAN KENANGAN
SERULING
Di TANGAN ANAK-ANAK
Di SEBUAH HALTE BIS

Tinggalkan komentar Anda