Sejarah Karawitan Jawa

Sejarah Karawitan Jawa
sumber : fsp.isi-ska.ac.id

Sejarah Seni Karawitan

Dalam hal sejarah, Karawitan tidaklah terlepas dari perkembangan alat musik Gamelan yang secara hipotesis diketahui telah ada sebelum masuknya pengaruh Agama Hindu ke Indonesia. Hal ini senada dengan ungkapan seorang sarjana berkebangsaan Belanda bernama Dr. J.L.A. Brandes. Secara teoritis dia mengatakan bahwa jauh sebelum datangnya pengaruh budaya India, bangsa Jawa telah memiliki ketrampilan budaya atau pengetahuan yang mencakup 10 butir (Brandes, 1889). 10 butir yang dimaksud meliputi Wayang, Gamelan, Ilmu Irama Sanjak, Batik, pengerjaan Logam, sistem mata uang sendiri, ilmu teknologi pelayaran, astronomi, pertanian sawah, serta birokrasi pemerintahan yang teratur.

Jika apa yang dikatakan oleh Brandes diatas adalah benar, itu berarti keberadaan Gamelan telah ada sejak jaman prasejarah. Meskipun begitu tahun yang tepat sangatlah sulit untuk diketahui karena pada masa prasejarah masyarakat belum mengenal sistem tulisan. Juga tidak ada bukti-bukti tertulis yang dapat dipakai untuk melacak dan merunut Gamelan pada masa Prasejarah.

Yang pasti, keberadaan Gamelan (Seni Karawitan) di indonesia telah berusia yang sangat tua, melalui bukti-bukti yang ada seperti tulisan-tulisan, prasasti-prasasti pada didinding candi. Bukti tertua mengenai keberadaan alat-alat musik tradisional Jawa dan berbagai macam bentuk permainannya dapat ditemukan pada piagam Tuk Mas yang bertuliskan huruf Pallawa. Kesederhanaan bentuk, jenis dan fungsinya tentu berkaitan erat dengan pola hidup masyarakat pada waktu itu. Pada piagam tersebut terdapat gambar sangka-kala, yaitu semacam terompet kuno yang digunakan untuk perlengkapan upacara keagamaan (Palgunadi, 2002:7).

Perjalanan panjang seni suara Karawitan akan selalu dikaitkan dengan keberadaan Kerajaan-kerajaan besar yang pernah ada di pulau Jawa, seperti Majapahit dan Mataram. Melalui kerajaan-kerajaan tersebut, Karawitan melalui perangkat gamelannya mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang mana seorang Raja sebagai penguasa tunggal kerajaan sangatlah menentukan hidup mati suatu kesenian.

Seperti yang diutarakan dalam puisi abad ke-14 Kakawin Negarakertagama, kerajaan Majapahit mempunyai lembaga khusus yang bertanggung jawab mengawasi program seni pertunjukan (Sumarsam,2003:19). Begitu pentingnya seni pertunjukan (Karawitan) sebagai suatu pertanda kekuasaan raja adalah keterlibatan gamelan dan teater pada upacara-upacara atau pesta-ria kraton (Sumarsam, 2003:11).

Perkembangan Seni Karawitan berlanjut dengan munculnya Kerajaan Mataram. Pada jaman ini dianggap sebagai tonggak seni karawitan, terutama untuk gaya Yogyakarta dan Surakarta. Tidak hanya penambahan jenis-jenis gamelan saja, melainkan fungsi seni karawitan pun mengalami perkembangan. Disamping sebagai sarana upacara, seni karawitan juga berfungsi sebagai hiburan. Dahulu seni karawitan produk kraton hanya dinikmati di lingkungan Kraton. Selanjutnya karena keterbukaan Kraton dan Palilah Dalem, seni Karawitan produk kraton sudah berbaur dengan masyarakat pendukungnya.

Dari realita tersebut terlihat begitu kuatnya peran penguasa dalam menentukan keberadaan suatu bentuk kesenian. “Sabda pandhito ratu” merupakan kebiasaan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan pada saat itu. Eksistensi dan perkembangan kesenian di masyarakat, keadaannya, penciptaannya, pelaksanaannya tergantung pada kegiatan para pendukung, dan adat kebiasaan yang berlaku. Popularitas suatu cabang seni bertalian erat dengan kegemaran orang banyak pada suatu waktu, hidup suburnya berkaitan dengan penghargaan, bantuan materil dari penguasa (Djokokoesoemo, tt:132-133).

Pengertian Seni Karawitan

Istilah Karawitan sendiri digunakan untuk merujuk pada kesenian Gamelan yang banyak dipakai oleh kalangan masyarakat Jawa. Istilah tersebut mengalami perkembangan penggunaan maupun pemaknaannya. Banyak orang memaknai “karawitan” berangkat dari kata dasar “rawit” yang berarti kecil, halus atau rumit. Konon, di lingkungan kraton Surakarta, istilah karawitan pernah juga digunakan sebagai payung dari beberapa cabang kesenian seperti: tatah sungging, ukir, tari, hingga pedhalangan (Supanggah, 2002:5¬6).

Penamaan Karawitan ini mengacu pada apa yang dihasilkan oleh alat musik Gamelan yang memang memiliki sistem nada nondiatonis (dalam laras Slendro dan Pelog), identik dengan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan dalam sajian instrumentalia, vokalia ataupun campuran keduanya yang menghasilkan sesuatu yang enak didengar.

Dalam pengertian yang sempit istilah Karawitan dipakai untuk menyebut suatu jenis seni suara atau musik yang mengandung salah satu atau kedua unsur berikut (Supanggah, 2002:12):

  • Menggunakan alat musik gamelan – sebagian atau seluruhnya baik berlaras slendro atau pelog – sebagian atau semuanya.
  • Menggunakan laras (tangga nada slendro) dan / atau pelog baik instrumental gamelan atau non-gamelan maupun vocal atau carnpuran dari keduanya.

Melalui Gamelan, Seni Karawitan mampu mendidik rasa keindahan seseorang yang diharapkan untuk menumbuh kembangkan kesadaran pada nilai sosial, moral dan spiritual, Orang yang biasa berkecimpung dalam dunia karawitan, rasa kesetiakawanan tumbuh, tegur sapanya halus, tingkah laku lebih sopan. Semua itu karena jiwa seseorang menjadi sehalus gendhing – gendhing (Trimanto, 1984).

Untuk melengkapi pengetahuan Panjenengan tentang Sejarah Karawitan dan Gamelan beserta Fungsi, Jenis serta Nilai filosofis dari keduanya, silahkan lanjutkan membaca artikel-artikel berikut ini :

 

Sejarah Seni Karawitan Jawa

Tinggalkan komentar Anda