Tari Bines

Tari Bines Aceh
sumber : lintasgayo.com

Tari Bines. Secara umum, selain sebagai upaya pelestarian budaya dan hiburan, sebagian besar kesenian tari tradisional di Aceh juga difungsikan sebagai media dakwah. Tari Saman adalah satu contoh diantara sekian banyak jenis tari tradisi Aceh, namun ada satu jenis tari yang terkait hubungan sangat erat dengan tarian tersebut, yakni Tari Bines. Kedua tari ini sama-sama berasal dari Kabupaten Gayo Lues, hanya saja dalam perkembangannya, Tari Bines tidak semulus Tari Saman yang populer dan banyak dikagumi masyarakat dunia.

Dalam wujudnya, Tari Bines adalah sebuah tarian yang ditampilkan oleh para penari seberu atau beberu (anak gadis) berjumlah 10-12 orang. Ketika lahir Kerawang Gayo pada kisaran tahun 1904, para penarinya menari dengan menggunakan busana kerawang. Kemudian, saat syari’at Islam diterapkan secara umum di Aceh pada tahun 2003, penari Bines ditegaskan untuk memakai pakaian yang lebih sopan dan menutup aurat. Bines sebagai kesenian yang digemari di Kabupaten Gayo Lues biasanya dimainkan pada acara-acara pertemuan, perkawinan, maupun digelar dalam bentuk pertandingan.

Dalam prakteknya, Bines dimainkan dalam keadaan berdiri sejajar beriringan, segerak dan seirama. Ada peran pembawa lagu yang biasa disebut “ceh” dimana setiap lagu yang didendangkan akan selalu dimulai darinya. Baru kemudian diikuti secara serentak (saur) oleh pemain lainnya dengan disertai tepuk tangan yang bergemuruh, kekanan, kekiri dan kedepan. Bines adalah tarian kelompok, sehingga tidak bisa ditampilkan secara individu. Setidaknya, tarian ini akan melibatkan penari dalam hitungan genap, 10-12 atau 12-14 orang.

Satu hal yang menarik dari seni tari ini adalah namanya.┬áSejauh ini tidak ada yang dapat mengartikan istilah “Bines”. Istilah tersebut sudah digunakan untuk mewakili tari ini sejak zaman nenek moyang terdahulu dan tidak ada penjelasan terkait pemberian nama itu. Dalam percakapan sehari-hari di daerah Gayo Aceh pun tidak ditemukan kosa kata seperti itu. Penjelasan ini adalah apa yang seperti diungkapkan Syai, Ahmad dan Hermaliza, dkk (2012:41).

Sejarah Tari Bines

Perihal kesejarahannya, pendapat paling populer mengatakan bahwa Tari Bines hadir seiring dengan masuknya Islam ke Gayo Lues. Meskipun begitu, cikal bakal kesenian tari ini telah ada sebelum masa-masa Islam. Seperti yang terjadi di daerah-daerah lainnya, datangnya ajaran Islam ke Aceh memungkinkan adanya akulturasi budaya. Bines sendiri bermula dari kesenian tradisi yang disebut “piasan” yang dikemudian hari dijadikan salah satu sarana dakwah Islam dengan nama barunya, Tari Bines.

Secara kronologis, ada sebuah legenda yang mengawali lahirnya kesenian ini. Diceritakan, dahulu ada seorang gadis bernama Odeni yang melakukan perbuatan melanggar hukum adat. Karena perbuatan tercelanya, ia pun dihukum cambuk hingga meninggal dan mayatnya diletakkan dalam selembar kulit kering. Ibunya, sangat berduka atas kematian tersebut. Sambil menangis, ia meratap mengelilingi mayat anaknya itu. Ibu-ibu lain yang melihat kejadian tersebut menjadi tersentuh. Mereka pun mengikuti gerakan ibu si gadis, berjalan melingkar mengelilingi mayat Odeni.

Sebagai kesenian yang lahir dalam kehidupan masyarakat tradisional, awalnya tari ini bersifat sakral dan hanya ditampilkan dalam upacara adat saja. Seiring dengan masuknya ajaran Islam di Gayo Lues, kesenian yang sudah sedemikian populer tersebut dijadikan salah satu sarana penyebaran agama Islam. Oleh karena itu lirik sya’ir dimuati oleh nilai-nilai religiusitas dan selanjutnya dijadikan sebagai lirik asli dan baku dari tarian ini. Sementara itu, gerakan tetap mengacu pada asal kesejarahannya yakni para wanita menari sambil bertepuk tangan, melingkar dan berhenti secara serempak.

Antara Tari Bines dan Tari Saman

Bagi masyarakat Gayo Lues, Tari Bines adalah belahan jiwa Tari Saman. Dahulu perempuan di Gayo Lues, tidak diizinkan menarikan Tari Saman mengingat sifatnya terlampau keras, kencang dan disertai dengan gerakan memukul-mukul dada. Oleh karena itu para leluhur menciptakan jenis tarian lain yang dianggap layak untuk ditarikan oleh para perempuan. Meski tidak ada kepastian mengenai awal munculnya, dahulu dalam setiap pertandingan (jalu) saman, Tari Bines juga ditampilkan pada jeda penampilan satu grup saman dengan grup yang lainnya.

Keberadaannya yang lebih difungsikan sebagai pelengkap inilah yang kemudian membuat tari ini tidak sepopuler Tari Saman. Untuk diketahui, acara bejamu saman tidaklah selalu melibatkan Bines. Tari Bines lebih sering ditampilkan pada bejamu saman roa lo roa ingi, sementara untuk bejamu saman sara ingi, tuan rumah jarang menampilkan tarian ini. Selain dalam acara tersebut, Bines juga digunakan sebagai hiburan pada acara adat lainnya, seperti sinte murip (pernikahan ataupun sunnah rasul) dan acara menyambut tamu yang dihormati pada suatu kegiatan.

Satu hal yang menarik dari Bines adalah najuk atau pemberian uang kertas yang dijepit menggunakan lidi dan diselipkan di sempol atau sanggul para penari. Tradisi ini adalah bentuk penghargaan atau apresiasi penonton kepada penari Bines. Besaran pemberiannya tidak ditentukan, berapa saja, tergantung keikhlasan masing-masing penonton. Adapun dalam bejamu saman, pemberian tersebut tidak hanya saat proses najuk, namun juga saat seberu melakukan proses mah batil. Mah batil biasanya dilakukan dua orang seberu dengan membawa batil dan perlengkapan mangas (menyirih) kepada tamu undangan.

Pemberian sejumlah uang ini, terkadang tidaklah terlepas dari sonek yang dilantunkan penyanyi atau penangkat Tari Bines. Sonek adalah sejenis pantun yang mengalun mengikuti alunan lagu pada redet bines. Umumnya sonek berisi pujian, sindiran, permintaan, ungkapan isi hati dan lain sebagainya. Pada intinya, sonek dimaksudkan untuk memicu kesadaran tamu undangan agara memberikan imbalan kepada penari Bines. Dalam perkembangannya, tradisi pemberian uang ini sedikit berubah dalam pelaksanaannya. Imbalan biasanya diletakkan dalam kotak atau sejumlah uang dalam amplop. Hal ini dimaksudkan agar penonton tidak bersentuhan langsung dengan penari.

Fungsi Tari Bines

Seperti diketahui, kesenian tradisional pernah menjadi sarana penerangan yang penting dan efektif bagi masyarakat tradisi yang umumnya menggemari kesenian tersebut. Dalam hal ini, Bines menjadi sarana penyampaian informasi yang membangun dalam nuansa yang bersahabat. Menjadi sarana untuk memberi penyuluhan dan penerangan tentang sejarah dan syari’at Islam yang sedang berkembang di Aceh. Selain itu, salah satunya melalui seni tari ini juga disampaikan pengenalan pancasila, sejarah bangsa Indonesia, korupsi, penyakit serta pesan-pesan pembangunan.

Dimasa-masa awal, Bines membahas masalah terkait adat, sehingga memiliki fungsi untuk melanggengkan kehidupan adat itu sendiri. Pada periode berikutnya, melalui syair yang dilantunkan, disampaikanlah penerangan perihal sejarah daerah dan nasional, revolusi, pancasila, hingga kritik-kritik terhadap penguasa di dalam masyarakat. Tentu saja, sisi fungsionalitas Bines terus berubah dalam ragam dan luas perkembangannya, selain tetap berfungsi hiburan ataupun sebagai sumber pengumpulan dana bagi pembangunan, seperti masjid, sekolah dan lain sebagainya.

Tinggalkan komentar Anda