Tari Klana Alus

Tari Klana Alus Yogyakarta
sumber : tariklanaalus.blogspot.co.id

Tari Klana Alus adalah jenis Tari Tunggal Putra yang menjadi bagian dari Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Tari ini merupakan hasil karya dari seorang penari dan guru tari bernama R. Soenartomo Tjondroradono (K.R.T Candraradana). Pada awalnya tarian ini hanya ditampilkan di dalam istana, namun atas izin dari Sri Sultan Hamengku Buwana VII akhirnya tari klasik ini diperkenankan untuk diajarkan serta dikembangkan diluar keraton. Izin dikembangkannya Tari Klana Alus tersebut juga ditandai dengan hadirnya organisasi kesenian Kridho Bekso Wiromo.

Seperti namanya, Tarian Klana Alus ditarikan dengan karakter dan gerak tari yang halus. Adapun ciri khas dari gerakan tari ini adalah gerakan Ngana atau Kiprahan yang diungkapkan melalui gerak Muryani Busana. Klana Alus dikatakan sebagai tari yang menggambarkan keadaan seorang Raja yang sedang merindukan seorang putri. Penggambaran itu terutama tercermin pada gugusan gerak Muryani Busana yang dimaknai sebagai gerakan orang berhias dan berbusana, gerakan ini pula mendominasi pada tari Klana Alus.

Secara garis besar tari ini dibagi menjadi tiga bagian yakni: Maju Gending, Kiprahan dan Mundur Gending. Secara keseluruhan gerakan tari terlihat lebih ekspresif dan dinamis dengan irama yang terdiri dari beberapa irama, diantaranya adalah irama satu dan irama dua. Iringan Klana Alus biasanya gendhing Cangklek laras slendro patet 9.

Seperti yang telah disebutkan diatas, Tari ini merupakan gambaran Kerinduan Raja pada seorang Putri, yakni penceritaan tentang tokoh Prabu Jangkung Mardeya yang merindukan seorang putri kerabat Pandawa. Tokoh lainnya adalah Prabu Sri Suwela sebagai penyamaran dari Dewi Arimbi yang dalam figur pria meminang Bima. Hiasan kepala menunjukkan keunikan keindahan di luar pola tradisional, yakni bulu-bulu burung merpati yang ditata indah warna-warni artistik Jawa. Gerak ”tari” Sri Suwela lebih mendekati sifat feminim.

Dalam hal Tata Busana, Penari Tari Klana Alus biasanya memakai Celana Cinde berwarna merah, Kain Parang (Loreng), Bara (hiasan kain cinde kecil dipaha kanan dan kiri). Termasuk juga penggunaan Setagen dan Epek Timpang yang difungsikan sebagai ikat pinggang, Kalung Susun dan Klat Bau yang terbuat dari kulit, Keris dan Oncen serta Sampur Cinde.

Tari Klana Alus – Tari Klasik Gaya Yogyakarta

Tinggalkan komentar Anda