Tari Rejang Bali

Tari Rejang Dewa
sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tari Rejang Bali. Secara umum Kesenian Tari Bali telah diklarifikasikan menjadi tari yang bersifat hiburan dan Tari Sakral atau Tari Wali yang difungsikan sebagai bagian dari ritual keagamaan. Ketika merujuk pada zaman Bali Kuno, terdapat dua transformasi perihal kesenian tari, yang pertama adalah melalui guru-guru tua yang memberikan pelajaran secara personal.

Kemudian yang kedua adalah kategori yang berbau gaib, yakni transformasi ketika seorang penari hanya bertindak sebagai medium. Kategori ini sering ditemukan pada penari-penari suci atau yang belum akil balik. Mereka mengalami proses kerawuhan – suatu ecstay, dan menari dalam keadaan kehilangan kesadaran saat menari Rejang Pendet atau tari Sang Hyang di pura-pura Hindu (Bandem, 1996:67).

Dalam Sejarahnya, Tari Rejang telah menjadi bagian dari upacara keagamaan masyarakat Bali sejak zaman pra-Hindu. Tari ini difungsikan sebagai persembahan suci untuk menyambut kedatangan dan menghibur para Dewa yang turun dari kahyangan. Biasa dipentaskan dalam pelaksanaan Upacara Dewa Yadnya seperti Odalan di pura-pura dalam kalangan Masyarakat Hindu. Melalui puja mantra dan sesaji, para Dewa diundang turun dari kahyangan dan diyakini bersemayam pada benda-benda suci seperti Pratima yang biasanya ditempatkan di tempat-tempat suci atau pelinggih.

Tari Rejang ditarikan oleh para penari putri secara massal atau berkelompok baik pilihan maupun campuran dari berbagai usia. Tarian Rejang identik dengan gerakan tari yang sederhana dan lemah lembut namun progresif dan lincah. Dilakukan dengan penuh rasa khidmat, penuh rasa pengabdian kepada Dewa-Dewi Hindu dan penuh penjiwaan. Mereka menari dengan berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih yang kadang kala dilakukan dengan berpegang-pegangan tangan.

Dalam hal tata busana, para penari Rejang biasanya memakai pakaian adat Bali yang didominasi oleh warna kuning dan putih. Terdiri dari kain putih yang panjang yang dikenakan dari bawah hingga pinggang. Pada bagian atasnya di gunakan serangkaian kain panjang seperti selendang yang berwarna kuning dililitkan di badan penari menutupi kain putih bagian atas. Selebihnya pada bagian kepala, penari menggunakan mahkota yang dibuat dengan ornamen bunga-bunga.

Untuk tata rias yang digunakan para penari, biasanya lebih sederhana dan lebih terkesan natural. Sebagai pengiring tarian ini pada umumnya adalah gong kebyar, namun ada beberapa yang memakai gamelan lain seperti gamelan selonding atau gamelan gambang. Selain itu dalam pertunjukan Tari Rejang ada pula yang diiringi vokal seperti tembang atau kidung.

Tari Rejang adalah tari tradisional yang oleh masyarakat Bali dibagi dalam beberapa jenis berdasarkan :

  1. Status sosial penarinya (Rejang Deha: ditarikan oleh remaja putri)
  2. Cara menarikannya (Rejang Renteng : ditarikan dengan saling memegang selendang)
  3. Tema dan perlengkapan tarinya terutama hiasan kepalanya (Rejang Oyopadi, Rejang Galuh, Rejang Dewa dll).

Di desa Tenganan, dalam upacara “Aci Kasa” ditarikan tari Rejang Palak, Rejang Mombongin, Rejang Makitut dan Rejang Dewa yang diiringi dengan gamelan Selonding. Masing-masing tarian Rejang tersebut dapat dilihat perbedaannya dari simbol-simbol dan benda sakral yang dibawa penarinya, pola geraknya, cara menarikannya dan tata busananya.

Video Tari Rejang

Penampilan salah satu jenis Tari Rejang Bali yakni Tari Rejang Dewa di Besakih 2015

Tinggalkan komentar Anda