Tari Reog Kendang

Tari Reog Kendang
sumber : merahputih.com

Tari Reog Kendang. Reog sebenarnya lebih populer sebagai penyebutan untuk Kesenian Reog Ponorogo, Jawa Timur, namun nama kesenian tersebut juga berlaku untuk penamaan beberapa kesenian yang ada di daerah lain. Di jawa timur sendiri beberapa kesenian juga memakai nama Reog, termasuk Reog Cemandi dari Sidoarjo dan Reog Bulkio dari Blitar.

Selain yang disebutkan diatas, ada juga kesenian tari yang berasal dari Tulungangung yakni Tari Reog Kendang. Dalam pelaksanaannya, tari ini lebih mirip dengan sekumpulan penari yang menggunakan alat musik tifa atau jimbe atau dalam bahasa jawa disebut kendhang yang dipadukan dengan Kesenian Jaranan.

Sejarah Tari Reog Kendang

Tari Reog Kendhang awalnya dimulai dari kedatangan para gemblak dari Kadipaten Sumoroto, Kauman, Ponorogo ke Tulungagung di zaman kolonial Belanda. Dikatakan bahwa para gemblak tersebut adalah para pemain Kuda Lumping pada kesenian Reog Ponorogo. Mereka datang ke Tulungagung untuk bekerja sebagai penambang batu marmer dan petani cengkeh.

Untuk mengisi waktu luang disela-sela kesibukan mereka, maka dibuatlah sejenis ketipung yang hanya memiliki satu sisi untuk dipukul. Selanjutnya tabuhan ketipung atau kendhang para gemblak tersebut dipadukan dengan kesenian yang menjadi hiburan yang telah populer di masyarakat pada waktu itu, yakni Reog Kadiri (Jaranan). Dari situlah kemudian tercipta Tari Reog Kendang sebagai kesenian yang khas kota Tulungagung.

Ketika melihat Sejarah Tari Reog Kendang yang pada awalnya di motori oleh para pemain Reog Ponorogo, kesenian ini memiliki alur cerita yang hampir sama dengan cerita asal usul Reog Ponorogo maupun jaranan. Kesenian ini menjadi unik karena alur cerita yang dibawakan lebih cenderung menceritakan kegigihan para prajurit Bantarangin yang melakukan perjalanan ke Kerajaan Daha. Kegigihan lebih terlihat pada para pembawa kendhang yang saking kelelahannya berjalan sambil membungkuk.

Dalam perkembangannya, terdapat versi lain pada alur ceritanya, yakni versi letusan Gunung Kelud yang tercipta ditahun 2014. Pada versi ini unsur gemblak dihilangkan karena dianggap tidak etis dalam lingkungan sosial. Versi ini menceritakan tentang arak-arakan prajurit Daha yang mengiringi Ratu Kilisuci ke Gunung Kelud. Perjalanan tersebut dimaksudkan untuk memastikan apakah Jatha sura telah memenuhi syarat atau belum.

Tari ini biasanya diiringi dengan nyanyian campur sari dan iringan perkusi gamelan reog, termasuk Selompret, Gong, dan kenong. Meskipun begitu iringan tersebut diusahakan tidak mengurangi suara dari kendhang yang dibawa oleh para penari. Dalam hal Tata Busana, para penari Kendhang dan penari Kuda Kepang masih memakai pakaian serupa dengan kostum Jathilan pada Reog Ponorogo.

Video Pertunjukan Tari Reog Kendang

Tinggalkan komentar Anda