Topeng Betawi

Tari Topeng Betawi
sumber : gpswisataindonesia.wordpress.com

Topeng Betawi. Sudah lazim diketahui, sebagian besar kesenian tradisional di Indonesia pada awalnya sarat dengan makna yang sakral. Lambat laun seiring zaman yang dikatakan “berkembang”, demi mempertahankan keberadaannya, seni tradisi menjadi lebih profan yang hanya dipertunjukan murni sebagai hiburan. Hal ini juga berlaku untuk Tari Topeng Betawi. Sebuah tarian adat oleh masyarakat Betawi yang selain difungsikan sebagai hiburan, dahulu juga dipercaya dapat menjauhkan dari malapetaka.

Tari Topeng Betawi adalah salah satu sajian dari rangkaian pertunjukan Topeng Betawi yang didalamnya menggabungkan beberapa unsur seni, yakni musik, tari, lawak dan lakon. Di masa-masa awal, kesenian ini dipertunjukkan dengan cara berkeliling “ngamen” oleh beberapa seniman dimana lebih menitik-beratkan pada unsur tari. Adapun jika digelar untuk mengisi sebuah acara, porsi lawakan lebih menonjol. Sedangkan saat ini titik beratnya lebih kepada lakon, oleh sebab itu sebutan Tari Topeng Betawi saat ini berubah menjadi Topeng Betawi saja.

Dalam sejarahnya, Tari Topeng Betawi pertama kali diciptakan oleh Mak Kinang dan Kong Djioen pada tahun 1930. Dikatakan bahwa lahirnya tari ini terinspirasi oleh Tari Topeng Cirebon. Menurut Kartini (1989:1), “tari kedok yang berkembang di wilayah budaya Betawi pinggiran merupakan penyederhanaan dari tari topeng kecil Cirebon yang biasa terdiri dari enam sampai delapan topeng”. Oleh karena itu, nama-nama topeng yang digunakan sebagian ada kesamaan, seperti Topeng Panji dan Samba.

Ketika merujuk pada apa yang dikatakan Yahya Andi Saputra (2009:39), seiring perkembangan ada beberapa jenis tarian yang termasuk dalam rumpun Topeng Betawi. Beberapa variasi tersebut termasuk Lipet Gandes, Topeng Tunggal, Enjot-enjotan, Gegot, Topeng Cantik, Topeng Putri, Topeng Ekspresi, Kang Aji, dan lain-lain. Ada juga beberapa tari kreasi baru yang terinspirasi dari Tari Topeng, diantaranya Ngarojeng, Doger Amprok, Gitek Balen, Kembang Lambang Sari, Nanak Ganjen dan Topeng Sengget.


kembali ke menu

Perihal “Topeng” Betawi

Telah umum diketahui bahwa “Topeng” lebih diartikan sebagai penutup wajah atau dalam bahasa lain disebut juga tapel, atapukan, tapuk atau kedhok. Adapun dalam hal Topeng Betawi, pemaknaan topeng sendiri mengalami perluasan dimana lebih mewakili sebuah pertunjukan teater yang didalamnya terdapat unsur musik, tari dan sastra.

Jenis tari ini disebut tari topeng, bukan karena semua tari-tariannya ditarikan oleh para penari dengan mengenakan topeng, melainkan karena biasa dijadikan pelengkap pergelaran topeng. Salah satu teater tradisi yang hidup dan berkembang dikalangan masyarakat yang sehari-hari menggunakan bahasa Betawi dialek pinggir. (Rachmat Ruchiat, Perkembangan Seni Budaya di Jakarta dan Sekitarnya, 2003: 17)

Seperti yang telah dikatakan dalam sekilas sejarahnya di awal-awal artikel ini, Topeng Betawi adalah terinspirasi dan merupakan penyederhanaan dari Tari Topeng Kecil Cirebon. Sehingga nama-nama topeng yang digunakan dalam kesenian ini banyak memiliki kemiripan, baik nama dan filosofinya. Dalam hal ini, Tari Topeng Betawi mengusung tiga karakter topeng, diantaranya Panji, Samba dan Jingga.

Topeng Panji menghadirkan karakter anggun melalui warna yang didominasi warna putih, sebagai gambaran sebuah kesakralan, kebijaksanaan dan kesucian. Topeng Samba mewakili karakter yang lebih tangkas, terampil serta penuh keceriaan. Adapun Topeng Jingga menampilkan karakter keras, lebih garang sebagai gambaran tentang kegagahan.


kembali ke menu

Pelaksanaan Topeng Betawi

Dalam perkembangaannya, Topeng Betawi banyak mengalami perubahan termasuk dalam hal struktur pertunjukannya. Pada masa sekarang, pertunjukan kesenian ini umumnya terdiri dari beberapa bagian, diantaranya Tetalu, Topeng, Bebodoran dan Lelakon.

  • Tetalu : Di masa awal, sesi ini lebih difungsikan untuk mengumpulkan penonton. Oleh karena Topeng Betawi lebih sering ditanggap daripada mengamen, fungsinya pun berubah menjadi iringan musik untuk membuka pertunjukan.
  • Topeng : Setelah tetalu, keluarlah seorang wanita yang menjadi penari utama atau yang biasa disebut Ronggeng Topeng. Tidak seperti diawal perkembangannya, saat ini sang penari lebih sering tidak menggunakan properti topeng dalam tariannya. Meskipun begitu istilah “nopeng” masih melekat untuk meyebut ronggeng yang menari.
  • Bebodoran : Sesi ini ditandai keluarnya Bodor atau penari pria yang menggunakan sarung sebagai properti tariannya. Dia menari sambil berkata-kata jenaka untuk mengundang tawa penonton. Pada bagian ini, mulai terjadi interaksi antara bodor dan ronggeng, tidak jarang juga dengan pemusiknya.
  • Lelakon : Bagian ini berisikan sandiwara tanpa naskah yang mengetengahkan berbagai cerita dengan dialog yang telah disepakati oleh para pemain. Dahulu, lelakon bisa berlangsung hingga 4 jam, namun karena harus menyesuaikan situasi dan kondisi pihak yang menanggap durasinya pun dibatasi. Dampak dari penyingkatan durasi inilah yang kemudian membuat unsur lawakan lebih menonjol daripada lakon atau ceritanya.

kembali ke menu

Gamelan Topeng, Pengiring Topeng Betawi

Dalam pertunjukannya, Topeng Betawi akan diiringi dengan seperangkat gamelan yang terdiri dari beberapa waditra. Oleh karena tidak ada istilah khusus, maka disebutlah orkes pengiring yang khas ini sebagai Gamelan Topeng. Hal ini berbeda dengan teater Betawi lainnya, dimana alat musik pengiring lazim telah memiliki nama. Lenong diiringi oleh Gambang Kromong, sementara Blantek diiringi oleh Rebana Biang.

Gamelan Topeng biasanya terdiri dari sebuah rebab, gendang besar dan kulanter, satu ancak kenong berpencon tiga, krecek, kempul, serta sebuah gong tahang atau gong angkong. Dalam hal ini, kenong berpencon tiga akan ditabuh oleh dua penabuh. Satu penabuh pencon kenongnya atau biasa disebut “ngenong”, satunya lagi menabuh bagian pinggir kenong atau kenceng, sehingga disebut dengan “ngenceng”.

Peran alat pengiring ini sangatlah penting dalam pertunjukan Topeng Betawi, termasuk juga sebagai penanda beberapa bagian dari pertunjukannya. Pemukulan kempul menjadi penanda pertunjukan dimulai, dilanjutkan dengan gesekan rebab tunggal. Gamelan ditabuh ekstra keras, terutama ketika memasuki sesi tetalu. Pada bagian lakon, umumnya gamelan akan berfungsi sebagai tanda pergantian babak, aksentuasi gerakan serta jalan ceritanya.

Demikian informasi mengenai Topeng Betawi. Untuk memperluas pengetahuan Pembaca mengenai kesenian masyarakat Betawi ini, sangat disarankan untuk juga membaca referensi melalui tautan disediakan di bawah ini. Apabila bermanfaat, sebarkan materi budaya ini melalui media sosial agar semakin tumbuh kesadaran atas kekayaan budaya Indonesia. Terima kasih atas kunjungannya!

Tinggalkan komentar Anda