Tradisi Balimau Minangkabau

Tradisi Balimau Minang
sumber : www.infosumbar.net

Tradisi Balimau Minangkabau. Telah umum diketahui, beragam tradisi dilakukan oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadhan. Dalam artikel ini tersebut sebuah tradisi unik masyarakat Minangkabao di Sumatera Barat yang dinamakan dengan Balimau. Ini merupakan tradisi pembersihan diri baik Lahir maupun batin sebagai upacara penyambutan Bulan Puasa Ramadhan.

Tradisi Balimau didalam prakteknya adalah Upacara Mandi dengan menggunakan air bercampur Limau (jeruk). Air tersebut juga ditambahkan beberapa ramuan alami beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu yang semuanya direndam dalam air suam-suam kuku. Kemudian dibarutkan (dioleskan) ke kepala. Ramuan tradisional untuk Balimau tersebut adalah warisan turun-temurun semenjak dulu, sejak puluhan tahun lalu bahkan konon sejak ratusan tahun lalu.

Tradisi Mandi Balimau ini disebut pembersihan diri lahir dan batin, mungkin karena dilatarbelakangi oleh masyarakat tradisional Minangkabau yang mengaplikasikan wujud Kebersihan hati dan jiwa adalah memulainya dengan cara mengguyur seluruh anggota tubuh. Prosesi tersebut dibarengi ritual-ritual yang diharapkan memberikan kenyamanan dan efek bathin serta kesiapan lahir bathin ketika melaksanakan ibadah puasa.

Pada awalnya, tradisi ini sebenarnya tidak saja dikhususkan pada saat akan memasuki Bulan Ramadhan akan tetapi sebagai jelang-menjelang antara dua atau lebih kerabat. Seperti lazimnya, orang yang baru nikah, menjelang orangtua atau mertua. Persyaratan yang biasanya disertakan pada acara ini berupa limau kasai (ramuan balimau), karena dulu belum ada semacam sampo seperti sekarang. Tujuannya, agar orang yang didatangi dapat membersihkan diri, menyucikan diri. Hanya saja tempatnya tidak dilakukan ditempat pemandian umum, tapi di tempat pemandian masing-masing.

Selain sebagai pembersihan diri baik lahir maupun batin, Upacara Balimau juga dimaksudkan sebagai mempererat silaturrahmi dimana anak-kemenakan biasanya mengoleskan ramuan balimau ke kepala para mamaknya. Tradisi ini masih melekat pada sebagian daerah sampai sekarang di Minangkabau. Ini informasi yang disampaikan oleh Suhendri Datuk Siri Maharajo, Ninik-Mamak di Nagari Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

Tradisi Balimau dalam perkembangannya telah di salah artikan oleh sebagian besar masyarakat pelaku tradisi tersebut, terutama kalangan generasi muda. Kini Balimau lebih banyak dilakukan di tempat pemandian umum sehingga terjadilah percampurbauran antara kaum laki-laki dengan kaum Perempuan. Sehingga menjadikan praktek ini terkesan melenceng dari tujuan semula dan melanggar nilai-nilai agama.

Tinggalkan komentar Anda