Tradisi Subak Bali

Tradisi Subak Bali
sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

Subak adalah nama dari tradisi khas Bali yakni kebiasaan para petani Bali dalam mengatur sistem irigasi (pengairan sawah) dalam hal bercocok tanam padi. Tradisi ini telah berlangsung selama lebih dari 1000 tahun dan berhasil menjaga keberlangsungan jasa lingkungan pertanian. Adapun di tahun 2012 yang lalu, Tradisi Subak telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia sebagai Lanskap Budaya Bali.

Dinyatakan dalam peraturan-daerah pemerintah-daerah Provinsi Bali No.02/PD/DPRD/l972 Subak lahir sebagai hukum adat yang memiliki karasteristik sosioagraris-religius. Disamping merupakan perkumpulan petani yang mengelola air irigasi dilahan sawah dan biasanya diatur oleh seorang pemuka adat yang juga seorang petani.

Tradisi Subak juga dikaitkan dengan Sistem Pura Air yang diwariskan nenek moyang, yang memungkinkan subak untuk mengatur kegiatan di sepanjang aliran sungai. Naskah leluhur dari raja-raja Bali di abad kesebelas menyebutkan tentang sistem subak dan pura air yang sebagian masih berfungsi sampai sekarang.

Sistem pengairan dianggap sebagai anugerah dari dewi penguasa danau yang terbentuk dari kawah. Setiap subak memberikan persembahan kepada para dewa dewi di pura air masing-masing. Oleh karena itu dalam sistem pengairan sawah ini biasanya didapati pura Uluncarik atau pura Bedugul yang dibangun khusus diperuntukkan bagi Dewi Sri yang diyakini sebagai dewi kemakmuran dan kesuburan.

Selanjutnya, pura tersebut juga menjadi tempat bertemu bagi para petani guna memilih pemimpin dan membuat keputusan bersama tentang jadwal pengairan mereka. Kelompok-kelompok subak yang memiliki sumber air yang sama membentuk perkumpulan pura air per wilayah, di mana semua subak menyepakati jadwal tanam di Daerah Aliran Sungai (DAS). Sehingga setiap pura desa mengendalikan air yang mengalir ke teras sawah terdekat sedangkan pura wilayah mengendalikan air yang mengalir ke daerah yang lebih besar.

Pengaturan air merupakan faktor penting untuk pertumbuhan padi. Ini disebabkan oleh dua hal:

  1. Pertama : Air mengalir melalui bebatuan vulkanis yang kaya akan mineral seperti fosfat dan potasium. Di sini, sawah berfungsi seperti kolam buatan, di mana air yang subur menghasilkan efek seperti akuarium, yaitu proses ketika air membantu pertumbuhan padi melalui penyediaan nutrisi.
  2. Kedua : Daerah hulu subak memastikan bahwa air mengalir ke hilir. Ini mencerminkan pola tanam dan panen yang berlangsung bersamaan yang ternyata merupakan sistem pengendalian hama yang sangat baik dan menguntungkan semua pihak.

Revolusi Hijau dan Tradisi Subak

Di tahun 1970an, meski terjadi perubahan, keberadaan Subak sempat teruji oleh Revolusi Hijau. Dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani didorong untuk menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Ini sangatlah berbeda dengan sistem Subak, di mana kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan.

Metode yang baru pada revolusi hijau menghasilkan pada awalnya hasil yang melimpah. Hanya saja kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air. Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah secara tradisional sangatlah efektif untuk menanggulangi kendala ini.

Video Tradisi Subak

Tinggalkan komentar Anda