Tradisi Tabot (Tabut)

Tradisi Tabot Bengkulu
sumber : komikendy.wordpress.com

Tradisi Tabot (Tabut). Seperti halnya masyarakat Pariaman di Sumatera Barat yang memiliki Festival Tabuik, masyarakat Bengkulu juga memiliki perayaan serupa yakni Tradisi Tabot atau Tabut. Kedua upacara tradisional ini dilaksanakan setiap tahunnya pada tanggal 1-10 Muharam untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW.

Perihal nama tradisi ini, Tabot adalah bahasa lokal Bengkulu yang dalam bahasa Indonesia disebut tabut. Tabut sendiri berasal dari istilah At-Tabut yang secara harfiah berarti kotak atau peti. Dalam sejarahnya, istilah ini sudah digunakan sejak zaman Nabi Musa dan Harun yang mana sebuah peti keramat telah diturunkan ke bumi oleh malaikat.

Sementara itu, tabut yang berkaitan dengan Tradisi Tabot di Bengkulu adalah tabut yang hadir dalam bentuk lain. Sebuah peti aneh berdesain indah yang membawa terbang potongan tubuh Husein bin Ali setelah gugur di medan perang melawan kaum Khawarij di Padang Karbala, Irak. Kisah serupa mengenai tabut ini bisa juga di baca pada artikel Tradisi Tabuik.

Sejarah Tradisi Tabot

Festival Tabot di Bengkulu telah berlangsung secara turun temurun sejak kisaran abad ke-14. Ada salah satu sumber yang mengatakan, bahwa tradisi ini bermula dari datangnya rombongan Imam Maulana Irsyad dari Punjab, India yang berjumlah 13 orang. Mereka datang ke Bengkulu pada tahun 1336 Masehi. Oleh karena kecintaannya terhadap Amir Hussein bin Ali, menjelang datangnya bulan Muharram, mereka pun langsung melaksanakan tradisi ini selama 10 hari dengan puncaknya tanggal 10 Muharram (Hari Asyura).

Hanya saja, karena mereka yang belum bisa benar-benar menetap di Bengkulu, nama Imam Maulana Irsyad beserta rombongannya pun kurang dikenal. Selanjutnya, adalah Syeh Burhanuddin atau juga dikenal sebagai Imam Senggolo yang lebih populer dalam kesejarahan Tradisi Tabot. Disebutkan bahwa Syeh Burhanuddin yang hidup di masa penjajahan Inggris inilah yang pertama kali merayakan Tradisi Tabot di Bengkulu. Dalam sejarahnya, penjajah Inggris masuk ke Bengkulu antara tahun 1685 hingga 1825.

Seiring perkembangannya, festival budaya Tabot yang secara rutin digelar selama 10 hari setiap tahunnya, mampu menjadi magnet budaya dan sejarah Provinsi Bengkulu. Digelarnya tradisi ini mampu menyedot animo masyarakat melalui kemeriahan nuansa yang menyertainya. Pada tahun 2017 yang lalu, Tabot juga dilengkapi perlombaan kesenian dan pameran produk unggulan daerah dari 10 kabupaten dan kota. Menariknya, tradisi ini juga sebagai isyarat mudik bagi perantau asal Bengkulu untuk merindukan kampung halamannya.

Pelaksanaan Tradisi Tabot

Tabot adalah perayaan lokal yang terdiri dari beberapa rangkaian upacara yang dimulai pada tanggal 1 hingga pada puncaknya tanggal 10 Muharram. Berikut ini adalah rangkaian upacara yang menjadi bagian dari Tradisi Tabot :

  1. Pengambilan Tanah : Upacara ini dilakukan mulai pukul 20.00 WIB atau selepas Shalat Isya menjelang tanggal 1 Muharram. Tanah di ambil di dua tempat yakni di Pantai Nala dan Tapak Paderi. Prosesi ini dimaksudkan sebagai pengingat manusia akan keberadaannya yang berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.
  2. Upacara Duduk Penja : Prosesi ini dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 4 dan 5 Muharram. Ini adalah ritual sakral perihal tiruan jari-jari tangan dari tembaga yang umumnya telah disimpan sekurang-kurangnya satu tahun. Setelah didoakan yang juga diwarnai sesaji, keluarga pembuat tabot akan langsung mengantarkannya dalam keadaan terbungkus ke gerganya. Pengantaran ini dimeriahkan diiringi oleh bunyi dol dan tassa.
  3. Upacara Menjara : Menjara dilakukan mulai pukul 19.30 WIB pada tanggal 5 dan 6 Muharram. Ini adalah perjalanan panjang di malam hari yang dimaksudkan untuk silaturahmi. Dalam hal ini, tanggal 5 kelompok Bangsal akan mengunjungi kelompok Imam, sementara tanggal 6-nya kelompok Imam berkunjung ke kelompok Bangsal. Perjalanan ini diiringi dengan alunan musik Dol dan Tassa, melagukan Semi Tsauri ketika berjalan dan lagu Tsauri, Melalu, Tamatam saat berhenti.
  4. Arak Jari-Jari dan Seroban : Pada tanggal 7 Muharram malam hari, Penja yang sudah didudukkan diatas Tabot Coki akan diarak untuk berkumpul di tanah lapang. Sementara tanggal 8 Muharram, Seroban dipersiapkan untuk diarak bersama Penja di malam harinya. Arak-arakan ini dimaksudkan sebagai pemberitahuan kepada khalayak bahwa jari-jari tangan dan sorban Hussein bin Ali telah ditemukan.
  5. Hari GAM : Hari GAM memiliki makna bahwa tidak boleh ada bunyi-bunyian sama sekali sejak pukul 06.00 WIB sampai Upacara Tabot Naik Pangkek pada tanggal 9 Muharram.
  6. Tabot Naik Pangkek : Setelah Hari GAM selesai, selepas Dhuhur dilaksanakan acara Tabot Naik Pangkek. Upacara ini adalah kegiatan menyambung bangunan puncak Tabot dengan bangunan bagian Tabot Gedang di tempat pembuatannya.
  7. Malam Arak Gedang : Pada sore hari hingga malam di tanggal 9 Muharram juga, Tabot dibawa ke Gerga untuk Soja dan Penja dinaikkan ke atas Tabot sebelum diarak menuju tanah lapang untuk bersanding.
  8. Arak-arakan Tabot Terbuang : Tanggal 10 Muharram sebagai puncaknya, Tabot kembali diarak menuju Kerabela (sebutan orang Bengkulu untuk Karballa). Sebelum diarak, seluruh tabot menyembah terlebih dahulu kepada Tabot Imam dan Tabot Bangsal. Di pintu gerbang Kerabela telah ada juru kunci yang menyambut arak-arakan tersebut. Sebelum masuk dilakukan pemberitahuan mana yang bengkok, yang keliru dan wejangan untuk memperbaiki yang salah. Arak-arakan pun menuju kompleks pemakaman Kerabela dan dilaksanakan upacara penyerahan Tabot kepada leluhur di makam Syahbedan Abdullah.

Makna Filosofis Tradisi Tabot

Meskipun pada kenyataannnya, tradisi Asyura (10 Muharram) seperti ini dipandang banyak penyimpangan didalamnya, entah itu penyimpangan akidah atau dikatakan sebagai tradisi Syiah yang berkembang di budaya Sunni, namun tetap ada esensi yang khas sehubungan dengan kearifan lokal. Setidaknya ada tiga nilai utama yang mewarnai tradisi ini, yaitu nilai agama (spiritual) yang sakral, kesejarahan dan sosial.

Nilai spiritual agama terlihat pada proses mengambik tanah yang mencoba menyadarkan pelaku tradisi akan asal penciptaannya, selain juga mewakili akulturasi budaya Islam dengan budaya lokal. Disamping itu, perayaan tradisional Tabot juga mewakili ungkapan kegembiraan akan datangnya tahun baru Islam, karena bulan Muharram adalah bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah.

Nilai sejarah sudah sangat jelas, mengingat Tradisi Tabot ditujukan untuk mengenang kisah kepahlawanan cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali. Sebuah ekspresi ketidak-setujuan terhadap perlakuan Bani Umayyah, terkhusus kepada Yazid bin Muawiyah, termasuk juga Ubaidillah bin Ziyad yang memerintahkan penyerangan terhadap Hussein bin Ali beserta laskar yang menyertainya.

Sementara itu, nilai sosial lebih berupa nasehat kepada khalayak bahwa tidak dibenarkan segala bentuk praktik penghalalan segala cara untuk meraih puncak kekuasaan. Selain itu, juga sebagai bentuk keprihatinan sosial. Hanya saja, secara sosial juga tradisi ini tidak terlepas dari ketidak-bijaksanaan dalam menyikapi, sehingga sering kali terlepas dari nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Tinggalkan komentar Anda