W.S. Rendra

Biografi dan Kumpulan Puisi W.S. Rendra
sumber : ngopidooong.blogspot.com

W.S Rendra (Si Burung Merak)

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal W.S. Rendra adalah seorang sastrawan kenamaan Indonesia. Penyair yang kerap dijuluki “Burung Merak” ini, sejak muda telah menulis puisi, cerpen, esai sastra hingga skenario drama di berbagai media massa. Pada akhirnya, karya-karyanya pun diteliti oleh sejumlah pakar sastra dunia, khususnya dari Australia dan Jerman.

Melalui Bengkel Teater yang didirikannya, Rendra telah melahirkan banyak seniman termasuk Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi dan lain-lain. Sayangnya, Bengkel Teater yang didirikan di Yogyakarta tersebut kocar-kacir oleh tekanan politik. Selanjutnya, lahirlah Bengkel Teater Rendra di Depok, Jawa Barat pada kisaran tahun 1985 yang bertahan hingga saat ini.

W.S. Rendra terlahir di Solo pada tahun 7 November 1935 dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmojo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Sang bapak adalah seorang dramawan tradisional yang juga sebagai guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa pada sekolah Katolik di Solo, sementara sang ibu adalah seorang penari Serimpi di Keraton Surakarta Hadiningrat.

Rendra menghabiskan masa kecilnya di kota kelahiran. Memulai pendidikannya di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, kemudian SD sampai dengan SMA Katolik yakni SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo dan lulus pada tahun 1955. Adapun mengenai bakat sastra, beliau mulai menunjukkannya sejak di bangku SMP dengan menulis puisi, cerpen dan drama untuk berbagai kegiatan di sekolahnya.

Drama pertamanya “Kaki Palsu” telah dipentaskan ketika ia di SMP. Ketika di bangku SMA, ia semakin bergairah dalam berkarya, terlebih ketika “Orang-orang di Tikungan Jalan” menjadi drama pertama yang membuatnya mendapatkan penghargaan dan hadiah dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta.

Tahun 1952 adalah tahun pertama kali Rendra mempublikasikan karya puisinya melalui majalah Siasat. Sejak saat itu, puisinya pun mengalir ke berbagai majalah yang populer saat itu. Beliau semakin aktif dalam dunia sastra terlebih saat mengenyam pendidikan di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Menulis hingga ratusan cerpen dan esai di berbagai majalah, ia juga menciptakan sajak dan lagu.

Disebutkan dalam buku Sastra Indonesia Modern II  (1989), Prof. A. Teeuw berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern, Rendra tidaklah termasuk dalam salah satu kelompok sastra seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an maupun Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa Rendra mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Keunikan dan kekhasannya dalam bersastra juga turut membawa karya-karyanya terkenal tidak hanya di dalam negeri, namun juga diluar negeri. Tidak sedikit karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Selain aktif menulis, ia juga aktif mengikuti festival sastra di luar negeri, diantaranya sebagai berikut :

  • The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979)
  • The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985)
  • Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985)
  • The First New York Festival Of the Arts (1988)
  • Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989)
  • World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992)
  • Tokyo Festival (1995).

Karya-karya sastra WS Rendra juga diteliti oleh pakar sastra dunia, termasuk Profesor Harry Aveling dari Australia yang membicarakan dan menerjemahkan bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry : 1920 to 1974“.

Selain itu, Profesor Rainer Carle dari Jerman membicarakan karya Rendra dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Bengkel Teater Rendra

Pada tahun 1967, sepulang dari pendidikannya di Amerika Serikat, Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta. Namun, oleh karena tekanan politik pada kisaran tahun 1977, ia mendapatkan kesulitan mempertunjukkan karya drama dan puisinya di muka publik sehingga kelompok teaternya pun tidak bertahan.

Selanjutnya untuk menanggulangi masalah ekonomi, pada tahun 1985 Rendra pergi ke Jakarta, kemudian pindah ke Depok dan mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih bertahan hingga sekarang. Bengkel teater tersebut menempati lahan seluas 3 hektar yang menampung bangunan tempat tinggal Rendra dan keluarga serta bangunan sanggar pelatihan drama dan tari.

Kontroversi Kehidupan W.S. Rendra

W.S. Rendra menikah untuk pertama kalinya dengan Sunarti Suwandi di tahun 1959. Cinta pertamanya itu juga yang menginspirasi Rendra menciptakan beberapa puisi yang terangkum dalam buku Empat Kumpulan Sajak. Dari pernikahan ini lahir lima anak, diantaranya Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta.

Adapun pada tahun 1971, dua putri darah biru Keraton Yogyakarta yakni R.A. Sitoresmi Prabuningrat dan kakaknya R.A. Laksmi Prabuningrat bergabung dalam Bengkel Teater milik Rendra. Tak lama kemudian, Rendra melamar Sitoresmi untuk menjadi istri keduanya dan diterima. Pernikahan ini juga dibarengi dengan masuknya Rendra memeluk Agama Islam, sehingga banyak komentar sinis yang menyebut Rendra mengislamkan diri hanya untuk Poligami.

Menanggapi isu tersebut, Rendra mengungkapkan alasan yang lebih prinsipil “Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini, yakni kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang”. Dari pernikahan kedua ini lahir empat anak yakni Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Lagi, untuk ketiga kalinya Rendra menikah dengan mempersunting Ken Zuraida yang kemudian melahirkan dua anak, Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Sayangnya, tak lama setelah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan istri keduanya di tahun 1979 dan istri pertamanya di tahun 1981.

Kontroversi kehidupan W.S. Rendra juga termasuk dicekalnya film garapannya bersama Sjumanjaya “Yang Muda Yang Bercinta” oleh pemerintahan Orde Baru.Dari kejadian itu, semua penampilan di muka publik dilarang. Mengingat Rendra telah menjadi seorang muslim, inisial W.S. yang awalnya mewakili Willibrordus Surendra berganti menjadi Wahyu Sulaiman pada karyanya yang berjudul Seni Drama untuk Remaja.

Asal Usul Julukan Si Burung Merak

Merujuk pada news.detik.com, julukan WS Rendra tersebut bermula ketika Rendra berlibur di Kebun Binatang Gembiraloka bersama sahabatnya dari Australia. Singkatnya, dituturkan oleh sahabat dekat Rendra yakni Edi Haryono, ketika Rendra sampai di kandang merak, rendra melihat seekor merak jantan berbuntut indah sedang dikerubungi merak-merak betina. “Seperti itulah saya” tutur Edi mengulang ucapan Rendra.

Dari kejadian tersebut, teman Rendra langsung cerita kepada teman-temannya. Karena banyak yang membicarakannya, julukan tersebut kemudian melambung. “Temannya langsung cerita-cerita, Rendra kayak burung merak. Temannya di Yogya langsung menjuluki dia Si Burung Merak,” ungkap Edi. “Dia orangnya suka pamer. Seperti burung merak jantan yang suka memamerkan bulu-bulu indahnya” imbuhnya.

Penghargaan
  • Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)
  • Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
  • Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
  • Hadiah Akademi Jakarta (1975)
  • Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
  • Penghargaan Adam Malik (1989)
  • The S.E.A. Write Award (1996)
  • Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Kumpulan Puisi W.S. Rendra

Bahkan Kita Di Tatang Seratus Dewa
Gerilya
Doa Serdadu Sebelum Perang
Lagu Seorang Gerilya
Nina Bobo Bagi Pengantin
Pamflet Cinta
Sajak Anak Muda
Sajak Gadis dan Majikan
Sajak Ibunda
Sajak Widuri untuk Joki Tobing
Tahanan
Sajak Seorang Tua dibawah Pohon
Sajak Tangan
Sajak Sebotol Bir
Sajak Potret Keluarga
Sajak Matahari
Sajak Mata-mata
Aku Tulis Pamplet ini
Gugur
Kelelawar
Hai, Kamu!!
Nota Bele : Aku Kangen
Lagu Serdadu
Orang-orang Miskin
Rumpun Alang-alang
Rajawali
Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia
Sajak Burung-burung Kondor
Sajak Bulan Purnama
Sajak Kenalan Lamamu
Sajak Seonggok Jagung
Sajak Pulau Bali
Sajak Peperangan Abimanyu
Sajak Pertemuan Mahasiswa

Tinggalkan komentar Anda