Wayang Klithik

Wayang Klithik
sumber : www.raparapa.com

Wayang Klithik adalah salah satu dari ragam kesenian tradisional Wayang Jawa. Wayang ini terbuat dari kayu namun berbeda dengan Wayang Golek yang menyerupai boneka. Bentuknya dua dimensi atau pipih seperti bentuknya Wayang Kulit.

Selebihnya bagian tangan wayang ini terbuat dari kulit yang ditatah. Adapun pembeda yang paling kentara adalah gagang yang terbuat dari kayu yang menimbulkan bunyi khas “klithik…klithik” apabila wayang ini dipentaskan. Bunyi tersebut dipercaya sebagai awal mula dari penamaan kesenian ini.

Pertunjukan Wayang Klithik tidaklah membutuhkan kelir atau layar untuk bayangan. Sebagai penempatan wayang digunakan bambu yang telah dilubangi. Meskipun begitu desain lantainya tetap berupa garis lurus. Seperti halnya wayang kulit, Wayang Klithik juga mengenal wanda atau bentuk wajah dan perawakan kepala untuk melukiskan watak temperamen tokoh. Wanda disini didasarkan atas warna-warna yang khas.

Wayang Klithik juga mengenal ciri-ciri menurut gaya Yogyakarta dan Surakarta. gaya Yogya kurang anatomis dan lebih cenderung primitif namun lebih mengarah pada bentuk wayang golek. Terkesan gagah namun penuh kesederhanaan. Sementara itu, gaya Surakarta lebih menampilkan kehalusan dan ketenangan dengan bentuk mendekati wayang kulit.

Lakon Wayang Klithik

Wayang Klithik memiliki repertoar yang berbeda dengan wayang kulit yang biasanya mengambil cerita dari waracarita Ramayana dan Mahabharata. Dalam wayang ini cerita diambil dari siklus cerita panji dan damarwulan yang umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit.

Namun, tidak menutup kemungkinan Wayang Klithik juga memakai cerita wayang purwa dan wayang menak, bahkan dari babad tanah jawi sekalipun. Adapun jumlah Wayang Klitik untuk tokoh-tokoh pokoknya tidak lebih dari dua puluh buah. Dengan tambahan sekitar 10 buah yang diambilkan dari tokoh-tokoh wayang bratasena, anoman, gunungan, rampogan dan wayang ricikan jenis binatang gajah, kuda dan sebagainya.

Iringan Wayang Klithi

Dalam pertunjukannya, Wayang Klithik diiringi seperangkat gamelan berlaras slendro berjumlah lima macam, yakni kendang, saron, ketuk, kenong, kempul (barang) dan gong suwukan. Jumlah lagu/gending yang dipergunakan untuk mengiringi tidak banyak dan kurang variasinya sehingga sangat senada. Gamelannya boleh dikatakan sama dengan irama jatilan atau kuda lumping. Apalagi bila terjadi adegan perang, sangat monoton dengan iringan gending srepegan.

Pada setiap adegan yang dinamakan jejeran, Ki dalang mengiringinya dengan tembang macapat seperti Dandanggula, Sinom, pangkur, Asmaradana dsb. Tembang ini berperan sebagai suluk dalam wayang kulit dengan penambahan candra wayang untuk setiap tokoh-tokoh wayang yang sedang dilakonkannya.

Video Wayang Klithik

Tinggalkan komentar Anda